Perpustakaan, Budaya Baca-Tulis, dan Refleksi Pendidikan Indonesia

oleh Eries Septiani

Ruangan itu terletak hampir di pojok, dekat toilet tua yang tidak terawat. Ruangan itu jarang dikunjungi, hingga kadang ia cemburu pada toilet tua tetangganya itu. Di dalamnya, hanya ada empat buah rak buku bersusun. Rak-rak itu memang penuh buku. Akan tetapi, hampir semuanya berdebu. Debunya sangat tebal. Meja tulis yang terletak di tengah ruangan juga berdebu tebal. Di sana tidak terlihat seorangpun yang menggunakan meja itu sebagai tempat menulis atau berdiskusi. Ruangan itu mati. Petugasnya hanya satu dan ia tidak butuh menempelkan jari telunjuk ke mulutnya, karena memang tidak ada yang ke sana kecuali ada keperluan.

Kira-kira begitulah kondisi perpustakaan di sekolah-sekolah di Indonesia, kurang mendapat tempat di hati para pelajar. Orang-orang yang pergi ke perpustakaan akan dianggap sok rajin, kutu buku, culun, atau bahkan tidak punya teman.

Padahal hampir semua orang tahu bahwa di perpustakaan tersimpan dunia. Penjelajahan sejati dimulai dari situ. Thomas Alpha Edison belajar di sana, ketika ia dikeluarkan dari sekolah. Minatnya terhadap ilmu dipenuhi oleh buku-buku yang ia baca, alih-alih oleh gurunya yang melarangnya banyak bertanya. Jules Verne akan kita temukan di sana juga. Karya-karyanya telah banyak menginspirasi orang. Sedikit banyak kita telah melihat mimpi-mimpinya akan dunia telah diwujudkan oleh orang-orang lain yang membaca karya-karyanya. Begitulah, banyak orang hebat yang berasal dari sana dan kita bisa mengenal mereka di sana.

Selanjutnya, pertanyaan yang menggelitik adalah mengapa para pelajar jarang berkunjung ke perpustakaan? Sedikitnya, ada tiga hal yang menyebabkan popularitas perpustakaan turun derajat di mata pelajar.

Pertama, tentu saja masalah buku-buku yang ada di perpustakaan. Biasanya, di perpustakaan hanya ada buku-buku pelajaran yang sudah tua dan menguning kertasnya. Kalaupun ada novel atau buku-buku cerita, biasanya karya-karya lama yang bahasanya masih “purba” alias bahasa Indonesia yang masih kaku. Menyimpan karya-karya lama memang sangat penting untuk dokumentasi, tetapi akan lebih baik lagi jika buku-buku perpustakaan di-update sesering mungkin, dan tentu saja dengan mempertimbangkan kualitas isi buku-buku cetakan baru tersebut.

Tempat yang kurang nyaman juga sering menjadi faktor turunnya popularitas perpustakaan. Dari dulu, perpustakaan sekolah bentuknya begitu-begitu saja; dipenuhi rak buku bersusun, juga meja dan kursi sekenanya. Perpustakaan tidak pernah menjadi tempat yang ceria dan bersemangat. Ruang dunia ini tidak pernah diberi warna cerah, paling-paling putih atau krem. Padahal, interior juga sedikit banyak ikut berpengaruh menentukan suasana hati orang-orang yang berkunjung.  Perpustakaan seakan selalu menjadi tempat yang terlihat suram, sehingga ilmu pengetahuanpun ikut terbawa kesuraman perpustakaan.

Alasan ketiga adalah persaingan. Ya, perpustakaan sekarang memiliki saingan yang bernama “Professor Google”. Tinggal tik kata kunci dari informasi yang ingin dicari, lalu tekan “enter”, informasi akan mengalir masuk seperti tanggul yang bocor. Selain itu juga ada fasilitas e-book, atau buku elektronik. Hal ini memungkinkan para pembaca untuk membaca buku tebal tanpa kerepotan membawa-bawa buku berat itu ke mana-mana.

Turunnya popularitas perpustakaan ini berdampak besar pada pendidikan di Indonesia. Tinggi rendahnya pendidikan di suatu negara dapat dilihat dari karya-karya yang dihasilkan.

Untuk menulis, perlu membaca. Membaca merupakan internalisasi yang dibutuhkan seseorang sebelum menghasilkan output berupa karya. Membaca tidak bisa diceraikan dengan menulis. Tanpa membaca, tak akan ada yang bisa menulis. Minat baca yang rendah menghasilkan jumlah karya yang rendah pula. Inilah yang terjadi di Indonesia saat ini.

Selain itu, ada dampak  besar yang sangat disayangkan yang timbul dari rendahnya budaya baca-tulis negara ini. Dengan kemajuan teknologi, internet, e-book, dan sebagainya menyebabkan kemalasan berpikir pelajar meningkat tajam. Saat ini, banyak dari pelajar yang melakukan plagiat dalam mengerjakan tugas-tugas akademiknya. Mereka cukup mengambil bahan-bahan dari internet, menggabung-gabungkannya, dan jadilah karya baru. Istilah kerennya, “kopas”, dari kata copy dan paste. Kebiasaan ini sungguh tidak baik, karena akan menghambat proses belajar dan mengakibatkan kemalasan parah. Mau jadi apa bangsa ini jika orang-orangnya bodoh dan malas?

Sebenarnya, efek-efek di atas dapat diminimalisasi dengan membangkitkan kembali peran perpustakaan. Karena jika perpustakaan populer kembali, minat baca juga pasti akan meningkat pesat. Hal ini diharapkan berbanding lurus dengan karya tulis yang dihasilkan para pelajar. Lalu selanjutnya, diharapkan pula diskusi-diskusi akademik hidup kembali, sehingga lahir para pemikir yang akan membawa perubahan lebih baik bagi bangsa ini.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara konkret membangkitkan perpustakaan ini? Berdasarkan sebab-sebab menurunnya peran perpustakaan di atas, setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk membangkitkan popularitas perpustakaan.

Yang pertama tentu saja meningkatkan kualitas dan kuantitas buku-buku perpustakaan. Perpustakaan sebaiknya terus menambah dan memperbarui koleksinya. Untuk itu, dibutuhkan pendanaan yang kuat atau kerjasama dengan para penerbit buku-buku berkualitas. Dengan meningkatnya kualitas buku, diharapkan jumlah pengunjung juga akan meningkat.

Selanjutnya, interior perpustakaan juga perlu mendapat perhatian lebih. Tanamkan bahwa ilmu juga bisa menemukan bentuk cerianya. Mengecat perpustakaan dengan warna-warna cerah bisa menjadi satu langkah awal. Bisa juga dengan melengkapi perpustakaan dengan sofa agar duduk lebih nyaman. Menambah beberapa hal juga tidak dapat dipersalahkan, seperti ruang multimedia yang kedap suara. Ini akan sangat membantu mengatasi kejemuan saat di perpustakaan.

Terakhir, mencari bahan di perpustakaan bisa sangat menjemukan karena bahan yang dicari tidak mudah ditemukan. Namun saat ini telah ditemukan terobosan baru dalam sistem pencarian data. Namanya OPAC(Online Public Access Catalogue). Teknologi baru ini memudahkan pencarian di perpustakaan, karena yang dibutuhkan hanya mengetik kata kunci dari informasi yang ingin dicari. Beberapa perpustakaan telah dilengkapi dengan ini. Selain itu, kehadiran akses internet di perpustakaan bisa jadi langkah awal juga untuk menghidupkan kembali perpustakaan.

Masa depan pendidikan Indonesia bergantung pada penerus-penerus pembangunannya. Karena itu, genarasi muda adalah bahu yang penting untuk disandarkan. Membangun peradaban berarti membangun generasi mudanya. Budaya baca tulis juga harus ditingkatkan. Hanya dengan itulah Indonesia dapat menjadi negara yang maju. Pendidikan Indonesia terefleksi dari sana. Di masa depan, diharapkan peran perpustakaan di sekolah-sekolah di Indonesia dapat dipulihkan, agar tercipta masa depan Indonesia yang lebih baik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s