Sakit Akut Moral dalam Dunia Pendidikan

oleh Alfi Syahriyani, mahasiswa Program Studi Inggris Universitas Indonesia

 

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”

(Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia)

 

Sejak kecil, orangtua selalu mengajarkan pada anak-anaknya bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban. Tesis yang mengatakan bahwa pendidikan sejak dini adalah investasi masa depan sungguh tidak diragukan lagi kebenarannya. Pada dasarnya, setiap orangtua memahami bahwa pendidikan adalah hal yang sangat fundamental. Ketika zaman semakin berkembang pesat seperti saat ini, tak jarang segala cara dilakukan orangtua demi melihat anaknya menuntut ilmu di sekolah atau perguruan tinggi favorit. Mereka rela mengeluarkan banyak uang agar anak-anaknya meraih kesuksesan.

Tentu saja, bagi orangtua, ada kebanggaan tersendiri secara status sosial jika sang anak berhasil menembus universitas favorit, lulus tes CPNS, atau mendapat pekerjaan yang bergaji besar. Namun di balik itu, betapa banyak orangtua yang lupa mengajarkan anak tentang apa maksud sebenarnya dari “hidup secara bermartabat”. Akibatnya, ketika Ujian Nasional berlangsung, beberapa orangtua bahkan tak segan membeli kunci jawaban, semahal apapun itu. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh para guru di sekolah. Tidak peduli bahwa tanpa sadar mereka sedang menggadaikan kejujuran, atau sedang mengajarkan anak murid mereka bagaimana menjadi koruptor pelan-pelan.

Dalam konteks yang lebih luas, pendidikan semacam itu tentu saja berakibat fatal. Latennya korupsi, mafia kasus, dan sogok-menyogok saat tes CPNS adalah contoh dari sederet permasalahan yang diakibatkan oleh kurangnya orangtua dan guru dalam menghargai nilai-nilai kemanusiaan; kejujuran, integritas, kepemimpinan, dan lain sebagainya. Apalagi jika kita mengevaluasi pendidikan di Indonesia saat ini. Hal yang tampak kemudian hanyalah orangtua yang mengurut dada karena anaknya tak lulus UN, pemerintah yang berkoar-koar agar bangsa Indonesia dipandang oleh dunia, dan pakar pendidikan yang bicara dari satu seminar ke seminar lainnya. Kondisi itu ditingkahi pula dengan berbagai macam berita di media tentang sarana dan prasarana sekolah yang menggunakan logika cerita pendek A.A Navis: “Robohnya S(ekolah)urau Kami”, sebuah judul yang penulis kira memperlihatkan bahwa nilai-nilai moral dan spiritual telah kehilangan ruhnya dalam dunia pendidikan.

Betapa banyak kasus amoral yang membuat penulis tersentak akhir-akhir ini. Di Pekanbaru, misalnya, data dari okezone.com (23/03/2010) melaporkan bahwa ada seorang oknum guru yang tertangkap basah karena mencabuli tujuh siswa SD. Begitu juga yang terjadi Deli Serdang, seorang oknum guru honorer didapati melakukan pelecehan seksual terhadap delapan siswanya (metrotvnews.com, 17/02/2010). Sementara catatan dari www.aids-ina-org (10/03/2007) menyebutkan bahwa 45% remaja di Indonesia melakukan freesex. Perbuatan demikian bisa terjadi karena adanya kesalahan dalam proses pendidikan. Ketika di Singapura para murid diwajibkan membaca komik-komik filsafat dalam kurikulum pendidikannya, anak-anak di Indonesia justru dijejali dengan tayangan-tayangan televisi yang meracuni pikiran.

Kasus-kasus di atas bisa jadi seperti puncak gunung es. Penulis meyakini benar bahwa masih banyak kisah ironis lainnya yang terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia. Tanyalah pada hati nurani, apa sesungguhnya yang salah dari kondisi di negeri ini?

Gagasan Pendidikan Berbasis Karakter

Pada kenyataannya, permasalahan pendidikan yang terjadi di lapangan sudah tidak sejalan dengan definisi pendidikan nasional dalam perundang-undangan. UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari pengertian perundangan di atas, jelas bahwa sistem pendidikan di Indonesia mengarahkan para peserta didik agar memiliki kecakapan khusus demi membangun bangsa yang bermartabat. Namun demikian, ideal di atas kertas bisa berarti lain jika kita menengok realitanya di lapangan. Sistem pendidikan yang diharapkan mampu mencetak pribadi yang berperadaban, justru penulis lihat sebagai sistem karbitan.

Berkaitan dengan kondisi pendidikan di Indonesia, data dari Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia. Dari 12 negara yang disurvei oleh lembaga tersebut, Indonesia berada di urutan paling akhir, bahkan satu tingkat di bawah Vietnam. Sementara itu, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Menanggapi survei tersebut, Mendiknas tahun 2001, Abdul Malik Fadjar, mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terburuk di kawasan Asia. Menurutnya, pendidikan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik, termasuk persoalan stabilitas dan keamanan, sebab pelaksanaan pendidikan membutuhkan rasa aman (Kompas,5/9/2001).

Pada akhirnya, baik pemerintah maupun masyarakat memiliki PR besar dalam membenahi sistem pendidikan. Pasalnya, pendidikan yang ada di sekolah telah keluar dari khitahnya sebagai proses pembentukan karakter. Bachtiar Rifa’i menyebutkan bahwa sesungguhnya ada lima fungsi pendidikan sekolah. Pertama, perkembangan pribadi dan pembentukan kepribadian; kedua, transmisi kultural; ketiga, integrasi sosial; keempat, inovasi; kelima, praseleksi dan praalokasi tenaga kerja. Namun sayangnya, lima fungsi di atas tidak dipraktikan secara seimbang. Faktanya, para siswa sekarang cenderung pragmatis. Misalnya, ketika sudah duduk di perguruan tinggi, mereka cenderung berpikir bahwa kuliah hanya untuk mendapat pekerjaan dan gaji besar. Tidak peduli apakah nilai-nilai kemanusiaan selama proses belajar yang sudah dilalui bertahun-tahun itu terinternalisasi dengan sempurna. Contohnya, bagaimana mengapresiasi kerja kawan dalam kelompok, bagaimana menyeimbangkan kegiatan akademis dan nonakademis, bersosialisasi, berkontribusi di masyarakat, dan menghormati para guru.

Kenyataan demikian menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki sistem pendidikan berbasis karakter, yaitu suatu sistem yang mengarahkan para peserta didik untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Moralitas telah akut dan kehilangan bentuk, bahkan terlupakan dalam dunia pendidikan. Padahal, pendidikan diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk membentuk kepribadian seseorang. Erich Fromm dan Al-Ghazali menyinggung hal demikian. Konsep kepribadian yang digagas oleh Erich Fromm dan Al-Ghazali memiliki pengaruh yang besar terhadap pendidikan. Gagasan Al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung pada pendidikan moral spiritual dengan pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada anak didik. Sementara itu, pendidikan dalam konsep Fromm menekankan pembentukan karakter pribadi anak yang produktif.

Konsep pendikan Fromm dan Al-Ghazali erat sekali hubungannya dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat. Al-Ghazali menyatakan bahwa ada tiga struktur kepribadian, yaitu nafsu (impuls primitif) , akal (realistik rasionalistik) dan qalbu (spiritual). Sementara itu, Fromm menggagas lima struktur kebutuhan jiwa yaitu relasi, transendensi, keberakaran, identitas, dan orientasi. Baik Al-Ghazali dan Fromm memandang manusia pada hakekatnya baik. Bila dibandingkan antar keduanya maka dapat dilihat bahwa qalbu (spiritual-trensendensi) adalah struktur tertinggi yang mampu mengendalikan semua sistem kepribadian. Artinya, pendidikan sejatinya dapat menyentuh nurani para siswa sehingga mereka tidak lagi berprinsip having oriented atau memandang bahwa nilai matematis, jabatan, dan status adalah segala-galanya. Sebaliknya, mereka akan berprinsip being oriented atau fokus terhadap nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pandu bagi mereka dalam menempa diri.

Hal demikian dipertegas oleh Komaruddin Hidayat dalam artikelnya di Kompas yang berjudul “Yang Terlewatkan dalam Dunia Pendidikan”. Beliau menulis bahwa selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai entitas yang hidup.

Jika melihat sistem pendidikan saat ini maka dapat dipastikan bahwa sekolah-sekolah di Indonesia belum memiliki kurikulum yang berorientasi pada pembentukan kepribadian. Misalnya, mendukung peningkatan softskill dan implementasi nilai moral. Kalaupun ada, pelajaran agama yang sekarang terasa menguap atau masuk kanan ke luar telinga kiri. Apalagi ketika didapati fakta bahwa Departemen Agama pernah menjadi lembaga yang terindikasi sebagai lahan yang subur untuk korupsi. Nyatanya, di kelas pun para peserta didik hanya disuapi banyak teori a, b, dan c, tapi minim praktik di lapangan. Pengamat pendidikan dari Universitas Sumatera Utara (USU) Zulnaidi mengatakan bahwa masih terdapat 60 % teori dan 40 % praktik dalam kurikulum di Indonesia.

Mengasah Kepekaan Sosial

Jika gagasan pendidikan berbasis karakter bisa diterapkan dalam kurikulum di Indonesia, bukan tidak mungkin sistem pendidikan akan mencetak pribadi unggul yang kompetitif, berwawasan, namun tetap tidak melupakan nilai-nilai moral. Adalah suatu hal yang ironis jika seorang mahasiswa, misalnya, yang pada mulanya teguh memegang idealisme, namun ketika menjadi praktisi di pemerintahan mereka membuang jauh-jauh nilai moral yang ketika dulu digaung-gaungkan. Sebaliknya, kekuasaan selanjutnya menjadi target karena ada anggapan bahwa hidup akan lebih bermartabat dan terpandang dengan dengan adanya jabatan.

Dengan demikian, dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai elemen untuk mengatasi persoalan yang ada. Pemerintah sebagai fasilitator hendaknya tidak hanya mementingkan image bahwa mutu pendidikan dapat dilihat dari standardisasi UN. Selain itu, mereka juga seyogyanya bersikap tegas terhadap intervensi politik dan ekonomi dalam dunia pendidikan. Selanjutnya, untuk dapat merancang suatu sistem yang berorientasi pada kepribadian, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, LSM, guru, dan orangtua sebagai stake holder. Misalnya, bagaimana mengarahkan mereka agar peka terhadap kondisi sosial kemasyarakatan.

Ada banyak cara sebetulnya yang bisa diterapkan dalam sistem pendidikan berbasis kepribadian. Pertama, membiasakan diri untuk membaca literatur. Betapa banyak orang yang besar karena membaca. Bagaimanapun, semakin banyak membaca maka seseorang akan semakin kritis dan tidak mudah dibodohi. Para guru bisa terus mendorong murid untuk membaca dan mengkritisi karya-karya sastra yang bisa mengasah kepekaan sosial, misalnya, tetralogi Laskar Pelangi atau novel Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Korupsi. Setelah membaca, arahkan para siswa untuk menulis dan menyampaikan opininya tentang realitas yang terjadi di sekitar.

Kedua, penulis yakin bahwa dengan terjun ke lapangan, seperti mengamati realitas sosial, akan memacu para siswa untuk mengasah kepekaan nuraninya. Mereka akan mampu merasakan perubahan-perubahan zaman dan tertantang untuk menyelesaikan permasalahannya. Sebetulnya, ada sekolah yang sudah menerapkan konsep ini, yaitu sekolah alam, namun sayangnya, kebanyakan masih didominasi oleh orang-orang yang kuat secara finansial. Dalam sekolah alam dikenal program Living in, yaitu suatu program yang dirancang untuk mengasah kepekaan sosial dengan cara tinggal di pemukiman penduduk desa.

Ketiga, adanya metode yang dapat memunculkan awareness anak terhadap kondisi alam. Murid-murid dapat diajak untuk berpetualang, menikmati udara pegunungan, mendengar riak sungai, dan kicau burung agar mereka dapat menghargai alam sebagai satu entitas yang hidup. Bagaimanapun, kepekaan itu tak akan tumbuh ketika para siswa hanya dijejali materi di balik meja dan di dalam ruang berpendingin.

Dari paparan di atas, terlihat jelas bahwa Indonesia sudah saatnya menerapkan pendidikan berbasis karakter. Pemerintah bisa bekerjasama dengan LSM dan pakar pendidikan dalam mengembangkan suatu metode belajar yang “memanusiakan manusia”. Dengan demikian, para peserta didik dapat mengerti dan mengimplementasikan nilai-nilai moral, tidak lagi bertujuan mengejar materi semata. Dikala jabatan dan status sosial pada akhirnya hanya memberikan kebahagiaan sesaat, nilai moral-spiritual dalam dunia pendidikan memberikan investasi jangka panjang. Bukankah banyak peradaban yang dibangun oleh orang-orang yang kuat moral; yang pada mulanya berangkat dari ilmu pengetahuan, namun kemudian hancur karena para pemimpin yang haus kekuasaan?(*)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.”Guru Honorer Cabuli Delapan Siswa”.http://metrotvnews.com (diakses pada 4 April 2010 pukul 21.40 WIB)

Anonim.“Konsep Kepribadian: Komparasi Teori Kepribadin Al-Ghazali dan Eric Fromm” http://www.shvoong.com. (diakses pada 30 April 2010 pukul 14.30)

Anonim.“Oknum guru Cabuli 7 Siswa SD di Kampar”.http://news.okezone.com (diakses pada 4 April 2010 pukul 21.30 WIB)

Anonim.”45% Remaja Lakukan Free Sex”.http://aids-ina.org (diakses 4 April 2010 pukul 21.50)

Handayani. 2007. Problematika Sistem Pendidikan Indonesia dan Gagasan Based Syaria Education. Makalah

Hidayat, Komaruddin.”Yang Terlewatkan dalam Dunia Pendidikan”.Kompas edisi 5 Februari 2003.

Kartono, St.2009.Sekolah Bukan Pasar.Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Syahriyani, Alfi.”Dicari: Wajah Ramah Sistem Pendidikan di Indonesia” makalah, tidak dipublikasikan.

Syahriyani, Alfi.”Robohnya Sekolah Kami”.Koran Sindo edisi 4 Mei 2010

Tilaar, H.A.R.2006.Standarisasi Pendidikan Nasional Suatu Tinjauan Kritis.Jakarta: PT Rineka Cipta

Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah R.I Nomor 47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar.Citra Umbara: Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s