Tanah Yang Patut Diperebutkan – The Revelation

oleh Adiwena Yusuf Nugraha, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret

Terbentang luas nan indah sebuah padang rumput. Sebuah tanah yang bau harumnya melebihi wangi kesturi. Sebuah tanah yang bahkan kau tak akan pernah bisa menemukan rekah diantaranya karena kesuburannya. Hamparan yang diwarnai pohon-pohon rindang dengan daun merah mudanya.

Sebuah tempat dimana Sang Angin hati bernyanyi menyenandungkan suara-suara indahnya dari ujung langit yang biru bak kristal saphire. Semilir Sang Angin meraba ujung-ujung jari rerumputan yang membentang. Qolbu… adalah sebuah nama yang para orang tua berikan untuk menamakan tanah yang keindahannya tiada tara tersebut. Tanah yang akan penuh embun air kasih dipagi hari. Tanah yang hangat oleh cahaya cinta dikala Sang Mentari yang maha Pengasih dan maha penyayang muncul untuk menebar kehangatannya dikala siang. Tanah yang sejuk dikala rembulan muncul setelah Sang Mentari memerintahkannya untuk menjemput semua yang Sang Mentari cintai dengan belaian lembut dikala malam datang dengan senyumnya.

Tak ayal juga kenapa para orang tua kerap kali mengatakan bahwa padang Qolbu adalah tanah separuh surga, karena ditanah inilah sekuntum bunga biru yang suci nan indah milik Sang Mentari tumbuh. Sekuntum bunga suci yang akan tetap selalu kuncup dan tak akan merekah ditengah badai hidup yang dapat merontokkan kelopak-kelopaknya yang indah sebelum Sang Mentari mengizinkannya merekah dengan anggunnya. Sekuntum bunga yang tidak akan pernah menyerap embun kasih dari mata air yang sengaja maupun tak sengaja selalu membasahi daun-daunnya yang mana dapat membuatnya terkulai layu jika bunga tersebut serap sebelum waktunya, waktu yang diizinkan oleh Sang Mentari.

Sore hari ditengah padang Qolbu, terlihat sesosok manusia berdiri ditegak diatas bukit. Dia mengenakan sebuah baju zirah hitam, dan tangan kirinya menggenggam sebilah pedang berwarna hitam kelam melebihi granit yang terbakar lahar. Tak jelas siapakah sosok itu, namun sosok itu selalu memimpikan sebuah kedamaian yang abadi disisi Sang Mentari. Ia adalah seseorang yang begitu menikmati impian indahnya, dimana ia bisa menghirup sari-sari embun air kasih digelapnya fajar sembari menikmati pemandangan indah padang Qolbu yang penuh akan pepohonan rindang yang berdaun merah muda, hingga Sang Bulan datang bersama senyumnya setelah diperintahkan Sang Mentari untuk menjemputnya dengan penuh penghormatan bak penerus tahta kerajaan persia.

Namun sayang, semua itu tak lebih dari khayalan indah, itu hanya akan ada dipikirannya. Utopia yang penuh kabut. Halusinasi palsu akan impian-impiannya yang ingin dia raih. Yang ada didalam benaknya, hanyalah penyesalan. Ia selalu berpikir andaikan saja dia hadir dipadang Qolbu tidak dengan zirah dan pedang hitamnya, dia pasti akan merasa sangat bahagia. Kesatria ini begitu takut, amat sangat takut. Dia begitu takut karena dia harus bisa menghancurkan pedang hitam yang ia bawa dan melepas baju zirah hitam yang melekat pada tubuhnya sebelum Sang Bulan datang menjemputnya. Jika saat Sang Bulan yang diutus Sang Mentari melihatnya mengenakan baju zirah hitam dan memiliki pedang hitam ditanganya, maka Sang Bulan akan menyeretnya untuk menghadap Sang Mentari dengan perlakuan kasar. Dan begitu Sang Mentari melihatnya dengan keadaan seperti itu, maka orang tersebut akan dibakar dengan api yang panasnya seratus ribu kali lipat lebih panas dari panasnya api perut bumi. Api yang tak akan membunuh, tapi hanya membakar. Berpuluh-puluh peperangan telah dia lalui, ia tak pernah gentar, bahkan kesatria tersebut hampir selalu tertawa dan beringas pada saat melaluinya, walaupun peperangan yang dia lakukan dahulu tak lebih untuk kesia-siaan. Namun baru pertama kali inilah dia merasakan takut, rasa takut yang lebih mencengkeram dada dari pada ketakutannya akan kematian.

Dia begitu takut, dia ingin menyingkirkan kedua benda tersebut dari dirinya. Dia pukul-pukulkan pedang hitam itu ke batu besar yang ada didekatnya, namun bukannya pedang itu yang patah, tapi malah batu besar itu yang terbelah lalu hancur. Dia terus mencoba memukul-mukulkan pedang hitam miliknya itu ke batu-batu besar lainya yang dia lihat, namun hasilnya sama padahal hari semakin gelap. Dia lemparkan pedangnya jauh-jauh, namun begitu pedang itu hilang dari pandang, pedang itu entah bagaimana caranya ada lagi didalam sarung pedang.

Dia putus asa, diletakkannya pedangnya itu, lalu ia beralih ke baju zirah hitamnya. Dia duduk bersimpuh, dia mencoba melepaskan baju zirah hitamnya. Airmata mengalir deras dari matanya saat dia mencoba melepaskan zirah hitam yang terpaku dirusuknya. Dia tarik paku-paku tersebut dan darahpun bercucuran dari tubuhnya, namun zirah itu tak mau lepas juga. Menggigit dan membeku didalam sumsum. Teriakkan demi teriakkan tergemakan dari mulutnya bersama rintihan-rintihan parau yang terus menari-nari liar ditenggorokannya. Walau perih, sakit, dan pedih, dia terus berusaha mencabut paku-paku yang merekatkan baju zirah hitam itu dengan tubuhnya. Dia benar-benar ingin memusnahkan pedang yang tak mau lepas darinya. Zirah yang benar-benar ingin dia lepas, pedang yang benar-benar ingin dia hancurkan. Dia sangat ketakutan. Namun, tetap saja ia tak bisa berbuat banyak. Perasaan putus asa, sedih, dan takut makin merasuki ditubuhnya, semakin menenggelamkan jiwanya dalam jurang penyesalan.

“Aaaarrrggghhh…”

Raungan kesatria itu terdengar diseluruh penjuru padang Qolbu. Angin hati yang biasanya bernyanyi menyenandungkan suara-suara indah dari ujung langit yang biru hingga ujung-ujung jari rerumputanpun langsung membisu mendengar rintihan, teriakkan, dan raungan  itu. Angin hati hanya bisa melihat dengan empati dan belas kasih. Karena ia tak bisa membantu banyak. Ia merasa iba pada kesatria itu, tapi apa daya, ia hanyalah Angin tak berwujud yang tak beraga, hanya bisa bertutur kata. Hanya nasihat yang bisa ia berikan. Lalu Angin Hati yang tadinya diampun mulai berbicara dengan kesatria tersebut, berharap bisa sedikit membantu “Hai, anakku. Bukan bermaksut apa-apa, tapi kau hanya melakukan hal yang percuma. Baju zirah hitam itu tak akan pernah bisa kau terlepas dari tubuhmu, dan kau juga tak akan pernah bisa menghancurkan pedang hitam itu pula. Tahukah kau tahu kenapa? Karena sesungguhnya baju zirah dan pedang hitam tersebut adalah ciptaan Sang Mentari Yang Maha Besar. Kedua benda terebut ditempa sendiri oleh Sang Mentari, dan Sang Mentari sendirilah yang memasangkannya ditubuhmu saat kau masih menjadi janin diperut ibumu. Namun pada awalnya kedua benda itu tidaklah hitam warnanya. Kedua benda tersebut awalnya bercahaya putih dan amat sangat terang, sangat terang namun tidak menyilaukan, cahaya yang sangat menyejukkan mata… bahkan hati. Cahaya tersebut bahkan dapat menghidupi bumi jika pemiliknya adalah seorang yang amanah dan bijaksana. Dahulu, nama zirah itu adalah Ikhlas, dan nama pedang itu adalah Keberanian. Dua benda pusaka yang sangat langka dan kuat. Namun setelah kau lahir dan mengarungi hidup, kau sadar atau tidak, Sang Api Hitam perlahan-lahan telah merenggut cahaya dari zirah dan pedang itu. Dan perlahan-lahan kedua benda itu kehilangan cahayanya dan puncaknya warna kedua benda itu menjadi hitam kelam layaknya batu granit yang terbakar lahar. Dan akhirnya baju zirah tersebut berubah menjadi zirah Keangkuhan, dan pedang tersebut berubah menjadi pedang Amarah. Padahal dua benda tersebut adalah milik Sang Mendung yang telah bersumpah pada Sang Mentari akan menutupi cahaya pencerahan Sang Mentari pada setiap manusia, jika kau ingin selamat dari siksa yang pedih, kau harus bisa mengembalikan cahaya yang telah hilang dari zirah dan pedang tersebut. Dan itu berarti noda Sang Api Hitam yang melekat pada dua benda tersebut harus dipaksa menghilang pelan-pelan dengan sendirinya, tanpa sebuah perlawanan bak lumpur yang tersapu hujan.”

“Lalu bagaimana caranya agar sang hitam mau menghilang pelan-pelan dengan sendirinya tanpa sebuah perlawanan bak lumpur yang tersapu hujan?” tanya kesatria tersebut.

“Lihatlah ujung cakrawala sana, tanah padang Qolbu ini mulai meranggas dan retak. Langit padang Qolbu ini mulai menghitam, tanda Sang Mendung telah muncul. Pepohonan-pepohonan indah berdaun merah muda diujung padang Qolbu ini mulai mati karena panasnya suhu udara dipadang Qolbu, panas yang aneh, panas yang bukan karena panasnya cahaya Mentari, ini adalah panas yang dihasilkan oleh api. Dan bunga suci berwarna biru milik Sang Mentari yang tumbuh dipadang Qolbu ini juga mulai merekah, padahal Sang Mentari belum mengizinkannya, dan itu bisa mengakibatkan matinya kecantikan dari kesucian bunga tersebut. Padahal kuncupnya bunga biru adalah tanda tanah Qolbu masih suci. Kau tahu? Itu semua diakibatkan karena Sang Api Hitam telah muncul dan datang diujung tanah ini. Begitu banyak kesatria telah ia tumbangkan, yang berarti telah begitu banyak padang Qolbu yang telah ia rebut dan dia bumi hanguskan. Setelah merenggut cahaya dari zirah Ikhlasmu dan Pedang Keberanianmu, dia berniat menguasai padang Qolbu yang menjadi hakmu ini. Dia adalah sesosok dirimu yang lain, dirimu yang tak akan pernah mati, dirimu yang membakar mereka yang kau cintai. Maka angkatlah pedang hitammu itu. Walau itu adalah pedang Amarah, gunakanlah untuk menebas layaknya pedang Keberanian hingga noda Amarah musnah dari pedang itu. Busungkan dadamu yang berlapis zirah hitam itu, gunakanlah zirah keangkuhan yang tak bisa lepas dari tubuhmu itu untuk mempertahankan hal-hal yang sudah semestinya, kebenaran-kebenaran yang telah Sang Mentari kodratkan, hingga cahaya ikhlas kembali pada zirah itu. Hadapi dia! Kalahkan dia! Walau setiap luka yang kau ukir kelak ditubuhnya juga akan muncul ditubuhmu. Walau setiap ototnya yang kau robek adalah otot yang sama dengan milikmu. Teruslah bertarung hingga titik darah penghabisanmu, hingga akhir titik nadirmu! Bertarunglah atas nama Sang Mentari. Agar tanah ini tak mengering, agar langit ini tak menghitam, agar pepohonan tak tumbang, dan agar sang bunga yang kau cinta tak merekah sebelum waktunya. Atau paling tidak bertarunglah walau kau tau kelak akan dijemput kematian. Namun selama jantungmu belum tertikam, selama kepalamu belum terpenggal, tetaplah mengangkat pedang dan bertarunglah dengan berani. Bertarunglah dipertarungan yang ada dalam setiap dada manusia dengan gagah berani. Demi Tanah Yang Patut Diperebutkan ini!!!”.

Composed Maret 6, 2010

Edited Dec 17, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s