Kita (semua) Mencintai Samarinda

oleh Yolanda Debby Sherlytami, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Mulawarman

Sekitar pukul delapan malam aku sampai di rumah. Setelah terburu-buru pulang ke rumah hanya untuk menaruh bawaan barangku yang teramat sangat berat, aku kembali bersiap pamit pada mamah untuk pergi lagi. Dengan tidak banyak interogasi, mamah hanya mengingatkanku agar tidak pulang terlalu malam.

Sekitar setengah sembilan kurang, aku sampai di tempat itu. Tempat kesayanganku. Tempat yang selalu membuatku larut dalam semua jenis perasaan. Tempat yang mampu menggiring perasaanku masuk ke dalam setiap damai yang dia tawarkan.

Ponselku berdering. Ada panggilan masuk, tak lama bahkan belum sempat ku angkat deringan itu telah mati. Hmm, dari kejauhan aku melihat seseorang yang berjalan lambat menuju ke arahku. Ternyata seorang kawan telah sampai di tempat itu jauh lebih cepat dari pada aku dan malam ini aku akan menghabiskan waktu bersama kawan baikku itu.

Setelah mendapatkan tempat yang cukup strategis, mulailah kami berceloteh bak anak balita. Berjam-jam kami ngalor ngidul memperbincangkan banyak hal. Dari sekedar tanya kabar, perkembangan akademik masing-masing, kabar keluarga di rumah, kegiatan sehari-hari hingga masuk ke obrolan dalam tataran hati. Diskusi personal seperti ini yang aku rindukan. Sangat aku rindukan. Berbagi dari masalah hingga musibah bahkan tentang anugerah yang kami dapat. Menyenangkan. Suasana malam itu terasa sangat menyenangkan.

Menyenangkan, bukan karena kami berada di tempat ramai akan gemerlap, tapi bahkan karena tempat ini mampu menumbuhkan rasa damai dan tenang di hati kami. Menyenangkan, bukan karena tempat ini teramat sangat indah, tapi bahkan karena tempat ini tak terlalu indah jika dipandang mata, namun tak terukir indahnya jika dipandang hati. Tempat yang berkesan bahkan semua orang di kota ini pasti tau tempat ini.

TEPIAN Mahakam. ^^ Hembusan angin yang terasa begitu khas, penuh aroma tapi bukan aroma amis >_<. Ini aroma khas sungai Mahakam, aromanya mendamaikan setiap hati yang sedang rusuh. Airnya tak jernih, namun mampu menghantarkan kejernihan pikiran dalam diriku. Pemandangannya tak sedap dipandang mata, namun inilah yang membuatnya khas. Hehee. Tapi satu hal yang jelas hingga hari ini, bahkan setelah hampir dua puluh tahun aku di kota ini, sungai ini tetap mampu menyambut kedatanganku dengan ramah apapun perasaan yang sedang ingin aku tumpahkan.

Seketika obrolan kami terhenti. Perbincangan kami terusik. Sesuatu yang besar menangkap perhatian mata kami. Membuat mata kami terus mengikuti jalannya yang gontai dari kejauhan hingga akhirnya benda itu lewat di depan kami. Sebuah Kapal Pengangkut Batu Bara. Tanpa sengaja rangkaian kata keluar dari mulutku memecahkan hening, “Tambangku Malang diambil Jepang”

“Hah”, kawanku itu mungkin sedikit terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan, atau mungkin dia memang sama sekali tidak mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulutku. Namun dia langsung menyambung obrolan, “Liat gak photo yang di tag di facebook beberapa hari kemarin?” tanya kawanku itu.

“Photo yang mane? Ada banyak bener dah photo yang maen tag-teg gaje’.” Keluhku.

“Itu photo yang diambil pas panas teriknya matahari tapi kondisinya Samarinda lagi banjir. Simplenya, panas-panas kok baaanjiiirrrrrr?” ucap kawanku menunjukkan wajah memprihatinkan. *maksudnya si Samarinda yang memprihatinkan, bukan wajah kawanku. Heeheheee

Benar memang. Akhirnya obrolan kami pun sampai juga pada pembahasan tentang kota ini. Kota TEPIAN yang katanya berakronim Teduh, Rapi, Indah dan Nyaman. Kota yang secara tidak langsung adalah tempat dimana aku numpang lahir dan dibesarkan. Tapi Samarinda bukanlah sekedar kota bagiku. Samarinda lebih dari kota, Samarinda adalah guru yang tidak pernah angkuh bahkan bosan mengajariku. Dan hingga saat ini aku tak pernah lelah berguru padanya. Hampir dua puluh tahun. Bayangkan betapa betahnya aku berkutat di kota ini.

Apa yang diharapkan dari ibukota Kalimantan Timur ini? Tidak banyak atau bahkan mungkin tidak ada. Orang-orang di luar sana berkata bahwa inilah provinsi yang kaya tapi orang-orang yang di dalam sini bertanya “Apanya yang kaya?” Mereka mengeluh, kota ini memprihatinkan. Banjir yang tidak pernah tidak datang berkunjung, jalanan yang makin banyak jerawatnya, panas terik luar biasa karena sudah tidak rindang lagi dan keluhan-keluhan yang lainnya.

Bila keluhan itu hanya datang dari segelintir orang, mungkin masih bisa aku terima. Namun kenyataannya, keluhan itu seakan keluar dari setiap mulut orang yang berada di kota ini. Keluhan dan hanya keluhan.

Pertanyaannya kini kenapa di setiap keluhan mereka membuat Samarinda tidak juga berubah? Pikiran galauku dengan sederhana menyimpulkan bahwa “Samarinda lelah mendapat tekanan”. Seperti halnya kita, pasti akan sangat tertekan ketika terlalu banyak tuntutan yang dihujamkan ke dalam diri kita dan akibatnya membuat kita tidak mampu lagi percaya pada diri kita sendiri. Itulah yang terjadi pada kotaku saat ini. Samarinda sudah muak dengan segala tekanan berupa keluhan yang diberikan oleh kaki-kaki yang menginjaknya. Kaki-kaki yang tidak hanya numpang lewat, tapi kaki-kaki yang bahkan menumpukan hidup mereka di atas badannya. Kaki-kaki yang hanya mampu bersuara tanpa memberikan tindakan nyata, dan saat itu seakan-akan Samarinda berteriak “AKU tak mampu memperbaiki diriku sendiri.” *Mulai tidak PD, hehee

Kenapa mereka harus mengeluh? Keluhan ini aku yakini sebagai perasaan CINTA. Terserah mereka mengelak atau apalah itu, tapi semua keluhan itu ada karena cinta. Mereka yang mengeluh menunjukan empati dan keprihatinan mereka hingga akhirnya mereka harus menyuarakan keluhan mereka. Bahkan kawan-kawanku yang belajar di Universitas di Samarinda pun mengeluh, toh bukan karena mereka sebal atau jengkel, melainkan karena rasa cinta mereka. Mungkin jika mereka benci, sudah dari dulu mereka angkat kaki dari kota ini. *Atau jangan-jangan karena kalian tidak punya pilihan lain? >_<

Tapi dari keluhan itu aku mampu melihat cinta, cintanya pada tanah yang mereka injak. Bahkan jika harus ku perhatikan seorang pria setengah baya yang berdiri kekar dengan kulit yang hitam legam lalu berteriak “Banjir terus, Macet pula.” Aku masih bisa melihat keprihatinannya pada kota ini. Dan karena cintanya, dia menyuarakan keluhannya. Atau mungkin diriku sekalipun juga sangat sering mengeluh tentang kota ini. Dan jika itu bukan karena cinta, sudah dari dulu aku ngungsi ke kota lain. Hehee. Intinya Kita (semua) Mencintai Samarinda, si kota Tepian sang Benua Etam.

Tapi jika kalian masih merasa tidak termasuk dalam kata “semua” dan mengelak bahwa itu cinta, tak apalah. Cukup tanyakan kepada diri kita, ‘kota mana lagi yang akan menyambutku seramah Samarinda?’ Bahkan bukan hanya sebuah sambutan, tapi sebuah janji. Janji tidak hanya akan menyambutmu tapi juga memberimu pelajaran. ^^

10 Juni 2011

“Sedikit Pesan agar Jangan hanya Mengeluh” ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s