Namaku Gudel (bagian keempat)

oleh Azhar Aziez Lubis

 

 

 Hey masih ingat aku?

Aku gudel, masih tetap Gudel. . .

Jangan tertipu dengan penampilan

Sorban, bukan tanda kalau dia kyai,

jilbab, bukan tanda kalau dia sholihah,

peci, bukan ukuran kealiman seseorang,

sarung, bukan tanda kalau dia santri. . .

Ini hanya alat bagaimana menaklukkan, retorika kekuasaan. . .

gaya politisi memperoleh suara. . .

Aku Gudel, ya wakilmu di parlemen. . .

Aku buat program kerja bagaimana mengerup keuntungan

Aku rancang cara bagaimana mengerup kekayaan. . .

Aku susun taktik bagaimana mempertahankan kekuasaan. . .ya, kekuasaan. . .

Begitulah kira-kira tugas anggota dewan

Jangan tanya nasionalisme padaku, sebab aku hanya gudel

Apalagi idealisme menyejahterakan masyarakat. . .

Ingat sekali lagi aku hanya gudel

Jangan tuntut aku pemerataan keadilan

Ingat sekali lagi aku hanya gudel, jangan tuntut aku macam-macam!

Ingat. . . aku hanya Gudel, semak belukar, ilalang, dan rerumputan liar. . .

Maka, jika engkau kebetulan menemukan orang baik di pemerintahan,

ia hanya buih, ya hanya buih. . .

Sebab, mayoritas wakil kita di pemerintahan, gudel-gudel juga sama seperti aku. . .

Maka, jika engkau teraniaaya, tidak mendapatkan pelayanan yang layak,

mendengar kecurangan-kecurangan atau mendengar idolamu korupsi. . .

Ingat pesanku dan katakan dalam dirimu, ah mereka hanyalah gudel,

ya hanya gudel. . .

semak belukar, ilalang liar,

tanpa moral,  tanpa ruh perjuangan. . .

(dibawakan ketika teatrikalisasi puisi, Banyuwangi 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s