Namaku Gudel (bagian pertama)

Oleh Azhar Aziez Lubis

 

Namaku Gudel,

Hari tanggal dan tahun lahirku emak tidak ingat

Yang jelas aku lahir saat bapak kalah judi

Terusir…

tanpa rumah dan tanpa pendidikan. . .

 

Yang emak lakukan hanya menangis dan mencakar

Yang bapak lakukan,

hanya mabuk dan menggampar

Sedangkan aku…

yang aku lakukan hanya mencatat dan merekam. . .

 

Betapa banyak orang tua yang tak bisa bersikap dewasa

Entah kenapa namaku gudel

Bapak bilang biar kuat,

tidak mudah sakit dan bisa diberi makan apa saja

terutama biar tidak menghabisakan banyak biaya

 

Anak seusiaku masanya bermain,

belajar, berkembang dan bermimpi menjadi presiden

Sedangkan aku,

masih saja mengadah di trotoar, di jalan-jalan, di stasiun dan pasar-pasar. . .

 

Itulah taman kanak-kanak bagiku

di mana aku memaknai kehidupan

Belajar mengerti betapa sulitnya memberi

dan betapa mudahnya mencuri

 

Jika boleh aku memilih orangtua,

tentu aku tidak memilih orangtua yang membiarkan anaknya berkembang menjadi binatang,

orangtua yang hanya mengisi materi dan melupakan nilai,

orangtua yang membangun kerakusan akan dunia dan melupakan mengisi hati yang kosong dan hampa,

yang hanya mengisi kepala dan lupa mengisi jiwa

 

Jika diizinkan aku memilih untuk tidak dilahirkan. . .

 

(dibawakan ketika teatrikalisasi puisi, Banyuwangi 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s