Sang Penandai

Oleh Nila Rahma

Jim, lelaki pemain biola itu tak berani menjemput Nayla yang telah lama menungguinya di balik tembok istana kota. Jim terlalu pengecut untuk membuktikan cintanya. Dia tak mengerti bahwa sesungguhnya cinta adalah kerja-kerja yang penuh dengan pengorbanan. Nayla telah menunjukkan pengorbanannya yang sudah di luar logika. Dia memberontak pada keluarganya dengan meminum racun sebab dia tak sudi berpakaian pengantin jika bukan untuk Jim. Nayla tak mau membersamai lelaki sepanjang sehari jika itu bukan Jim, kekasihnya. Nayla tak mau menikah dengan pria yang tak dicintainya. Titik.

Nayla dan Jim bertemu pertama kali saat Jim memainkan biola di pernikahan Marguiretta. Usai memainkannya, Jim terkesiap melihat gadis itu mendekatinya, dan berkata dalam bahasa asing yang tak ia mengerti. Dia tidak akan mengerti karena bersekolah saja ia tak pernah. Kurang lebih gadis itu berkata padanya, “Mainkan satu lagu lagi untukku.” Tak lama, Jim menggesek biolanya kembali. Memainkan satu lagu lagi untuk Nayla.

Setiap hari mereka bermain di taman kota. Jim memainkan biola untuk Nayla. Dan Nayla bercerita apa saja. Jim mendengarkannya. Begitu terus setiap hari. Mereka menikmati keberduaan itu. Orang-orang di taman kota bahkan sudah biasa melihatnya setiap hari di taman kota.

Kini, Nayla sudah tiada. Jim dengan kepengecutan yang masih lekat lebur dalam jiwanya ingin menyusul kekasih hatinya dengan meminum racun yang kini sudah ada di tangannya. Jim terlalu banyak berpikir. Berpikir terlalu panjang untuk menjemput kekasihnya ke alam sana.

Dunia menunggu kisahmu, Jim. Dunia membutuhkan kisahmu. Dunia tak pantas lagi tercekoki kisah cinta sehidup semati yang dipercayai masyarakat seperti kisah denting jam dinding kota di kapel tua itu. Kisah itu bohong besar.

“Pecinta sejati tak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.” Begitulah Sang Penandai berkata pada Jim.

Jim harus meneruskan hidupnya, tanpa Nayla di sampingnya. Jim harus terus berjalan tanpa Nayla mengiringinya. Keberangkatan Armada Kota Terapung menjadi wadah Jim untuk meneruskan perjalanannya. Sekali lagi, tanpa Nayla. Kelasi yang Menangis, itulah sebuatan bagi Jim. Sungguh pantas ia disebut demikian. Ia terisak-isak sendiri meratap pada tembok kapal. Menangis tersedu-sedu saat malam hari. Berbulan-bulan. Saat teringat Nayla, itulah yang membuatnya demikian. Mengingat Nayla adalah kepahitan hidup yang harus ia rasai saat ini.

Berbagai peristiwa ia alami dalam ekspedisi yang dilakukan Armada Kota Terapung. Bertarung dengan perompak dan menghadapi badai besar hanyalah sebagian peristiwa yang dialaminya, hingga ia bertemu dengan gadis yang sungguh mirip dengan Nayla, kekasihnya dulu. Tetap, hal yang paling pahit adalah saat teringat Nayla.

Ekspedisi Armada Kota Terapung begitu mengesankan. Berangsur-angsur dalam perjalanan itu kepahitan luka hati Jim membaik. Memang benar, perjalanan panjang membuat kita membaik dalam menghadapi hidup. Hingga tibalah mereka pada daratan yang benar-benar mereka tuju. Sebuah tempat yang indah, tergugus lima pulau di sana dan kaya akan sumber daya alamnya. Di sanalah Jim mengakhiri ceritanya. Ia hampir mati setelah berusaha terseok-seok, berjalan, dan kemudian berlari hingga ke sini. Benar, “Pecinta sejati tak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.” Dan, kini Nayla berada di sampingnya.

Kau telah memberi satu kisah pada dunia tentang cinta sejati. Bukan seperti kisah bohong di kapel tua itu. Terima kasih, Jim.

Depok, 13 Agustus 2011

usai membaca Kisah Sang Penandai karya Tere Liye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s