Perlawanan Chairil di Masa Penjajahan Jepang: Tonggak Penting Perkembangan Sastra Indonesia

oleh Inung Imtihani, Mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI

 

Kawan, kawan,

Dan kita bangkit dengan kesadaran,

Mencucuk menerang hingga belulang.

Kawan, kawan,

Kita mengayun pedang ke Dunia Terang!

(“Siap Sedia” – Chairil Anwar)

Pada masa penjajahan Jepang, pada umumnya karya sastra digunakan sebagai media propaganda. Karya-karya, baik itu berupa cerpen, roman, sandiwara, maupun puisi harus melewati seleksi dari badan sensor Jepang dan Kenpeitai. Badan pengawasan Djawa Shinbun Kai dibentuk untuk mengawasi penerbitan surat kabar. Segala upaya dilakukan untuk mengekang kreasi-kreasi seniman yang tidak sesuai dengan kehendak Jepang. Namun, seniman kita tidak berhenti mencari cara untuk menerobos apa-apa yang kaku, palsu,  dan mengekang. Penyair kemudian berusaha menuangkan kegelisahannya dalam puisi dengan cara simbolik. Hal ini dimaksudkan supaya mereka bisa lolos dari sensor Jepang. Sepenggal bait terakhir puisi Chairil Anwar yang bertajuk “Siap Sedia” di atas adalah salah satu contoh puisi yang sedikit disamarkan maksudnya untuk mengelabuhi pemerintah Jepang.

Dalam buku Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang, H.B Jassin menjelaskan, “…sajak-sajak Chairil Anwar ‘Siap Sedia’ yang sudah lolos dari sensor dan Kenpeitai, tapi kemudian digugat Gunseireibu, instansi yang paling tinggi dan lebih tinggi dari Gunseikanbu, Kenpeitai dan sebagainya.” (Jassin, 1969: 19-20). Gugatan yang dilancarkan Gunsereibu tidak lain karena Jepang mencium aroma pemberontakan dalam puisi Chairil tersebut, terutama pada kata Dunia Terang yang ditafsirkan sebagai Jepang. Apa yang diserukan Chairil melalui puisi bukan untuk mendukung Jepang dalam peperangan, melainkan untuk menggelorakan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Jepang yang diselubungi propaganda-propaganda manis.

Puisi tidak terlalu berkembang pada masa penjajahan Jepang. Namun, secara umum, sastra Indonesia pada masa itu lebih menunjukkan geliatnya dibanding periode-periode sebelumnya. Selain karena kesusastraan Indonesia masih sangat muda, baik dalam hal sejarah maupun isinya, pengaruh kuasa Jepang juga memberi andil cukup besar dalam mengontrol karya-karya mana saja yang boleh diterbitkan. Selain Chairil, beberapa nama penyair yang muncul ke permukaan pada masa itu antara lain Usmar Ismail, Rosihan Anwar, dan Amal Hamzah.

Jika dibandingkan dengan karya-karya sandiwara, sangat sedikit puisi yang dipublikasikan pada masyarakat. Puisi kadang terlalu sulit untuk dipahami maknanya oleh orang kebanyakan. Padahal, sastra pada masa itu ditujukan terutama untuk propaganda, bukan untuk pencerdasan atau tujuan lainnya. Oleh karena itu, Jepang lebih menaruh perhatian pada sandiwara. Sandiwara dianggap lebih mampu menggelorakan perasaan orang banyak serta lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam. Sementara itu, dalam genre roman, terdapat dua roman ternama yang digunakan sebagai propaganda, yaitu Cinta Tanah Air karya Nur Sultan Iskandar dan Palawija karya Karim Halim. Meskipun tidak banyak, puisi-puisi yang muncul, baik mendapat izin terbit dari pemerintah Jepang maupun tidak, merupakan permulaan penting bagi “revolusi sastra” di Indonesia. Hal ini akan diuraikan lebih jauh pada bagian selanjutnya.

Kembali pada puisi-puisi Chairil di masa pendudukan Jepang, tampak bahwa ia merupakan seorang penyair yang paling individualis pada masanya. Cukup menarik untuk dikaji ketika kemudian ia mampu bertahan dan menjadi begitu menonjol di antara penyair-penyair lainnya. Ke-aku-an Chairil dijabarkan Jassin sebagai berikut,

“Padanya adalah ‘aku’ yang paling penting, seluruh dunia berputar pada ‘aku’-nya dan ‘aku’-nyalah yang membentuk dunia sekitarnya … baginya segala harga tidak berharga, dia hidup sebagai makhluk alam yang tiada mengenal tata susila dan kaum agama dengan ‘lembing katanya’ dijauhinya jauh-jauh. Dia hanya mengakui vitalisme, tenaga hidup, api hidup.” (Ibid., 21)

Chairil begitu revolusioner dalam karya-karyanya. Tak ayal jika selama pendudukan Jepang, karya-karyanya tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Chairil terus mencoba mendobrak tradisi puisi di Indonesia dengan ekspresionismenya. Tulisan-tulisan Chairil mulai dikenal ketika pertama kali dimuat di majalah Nisan (1942). Ia banyak terpengaruh oleh penyair-penyair Belanda seperti Marsman, Ter Braak, dan Du Perron. Melalui karyanya, Chairil berontak pada siapapun yang mencoba mengekangnya, tak terkecuali pada Pusat Kebudayaan (Keimin Bunko Shidosho) bentukan Jepang. Sekeras apapun upaya Jepang untuk “mengendalikan” Chairil, pada akhirnya semua itu sia-sia karena Chairil kukuh pada prinsipnya. Ia adalah “binatang jalang dari kumpulannya terbuang”.

Meskipun tidak diterbitkan selama masa pendudukan Jepang, puisi-puisi Chairil menjadi tonggak penting bagi perkembangan sastra Indonesia. Chairil bersama kedua rekannya, Asrul Sani dan Rivai Apin, membuat satu antologi puisi yang bertajuk Tiga Menguak Takdir. Antologi puisi ini disebut-sebut sebagai pembuktian diri tiga penyair terhadap tantangan angkatan Pujangga Baru yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Oleh karena itu, H.B. Jassin kemudian menyebut ketiganya sebagai pelopor angkatan ’45.

Chairil tampil dengan kejujuran yang berani. Berbeda dengan angkatan Pujangga Baru sebelumnya yang cenderung romantis-idealistis, Chairil menunjukkan dirinya apa adanya. Ia bertolak dari realitas dalam diri dan realitas di sekelilingnya. Menurut interpretasi penulis, puisi “Aku” memunculkan dengan jelas citra “liar”, “teguh”, “bebas”, dan “lepas”. Baris terakhir dan aku lebih tidak perduli/aku mau hidup seribu tahun lagi merupakan pernyataan penegas ke-aku-annya. Ia pencinta kemerdekaan yang sejati. Dalam kaitannya dengan kondisi sosial, politik, dan budaya pada masa itu, puisi “Aku” dapat saja menjadi simbol diri Chairil sekaligus simbol harapannya agar bangsa ini tetap meradang menerjang meski peluru menembus kulit. Pada akhirnya, perjuangan Chairil memerdekakan gagasan-gagasan ke-aku-annya adalah langkah besar yang mengantarkan sastra Indonesia kepada tempatnya yang baru, yang bebas dan merdeka.

 

Daftar Pustaka

Buku:

Jassin. H.B. 1969. Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang. Jakarta: Balai Pustaka.

Jurnal:

Hanum, Sulung Siti dan Prima Hariyanto. “Sejarah Pemikiran Sastra Indonesia Abad XX”. Susastra 7: Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya Volume 4 No 1/2008: 163—175.

Internet:

Pusat Kesenian Jakarta .“Chairil Anwar”. http://www.tamanismailmarzuki.com/ tokoh/chairilanwar.html (31 Maret 2011, pkl 21.00)

Wikipedia. “Chairil Anwar”. http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar (31 Maret 2011, pkl. 21.00)

Suaka, I Nyoman. “Sastra Kemerdekaan, Sastra Angkatan 45”. http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2003/8/31/ap3.html (31 Maret 2011, pkl. 21.00)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s