Peran Strategis Pemuda dalam Proklamasi Kemerdekaan: Studi Kasus Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok 1945

Oleh Saifulloh Ramdani, Mahasiswa Progam Studi Sejarah FIB UI

PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Proklamasi kemerdekaan merupakan peristiwa monumental bersejarah yang memilki arti penting bagi konstruksi bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan menjadi simbol bagi menangnya perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan tirani kaum imperialis. Proklamasi kemerdekaan juga menjadi simbol dari langkah awal bangsa Indonesia membangun dan membentuk suatu negara yang berdaulat. Melalui Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia resmi dibacakan. Dengan ini bangsa Indonesia menyatakan diri menjadi suatu bangsa dan negara yang merdeka serta bebas dari penjajah.

Sebelum dibacakannya proklamasi kemerdekaan, terjadi beberapa peristiwa yang mewarnai dinamika perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Salah satunya adalah peristiwa pengamanan SoekarnoHatta ke Rengasdengklok. Soekarno-Hatta dijemput oleh beberapa orang yang mewakili golongan muda dari rumah mereka masing-masing. Tepatnya tanggal 16 Agustus 1945, lepas tengah malam di bulan Ramadan, Kamis yang penuh ketegangan, Hatta yang sedang bersiap-siap untuk makan sahur, mendapati para pemuda yaitu Sukarni dan Jusuf Kunto datang dari arah Cikini Raya 71. Di lain tempat, pemuda lainnya yaitu Chairul Saleh dan Dr. Muwardi mendatangi rumah Bung Karno dengan mobil pinjaman dari D. Asmoro. Para pemuda menyampaikan kepada Bung Karno dan  Bung Hatta untuk segera bergegas meninggalkan Jakarta karena keadaan telah memuncak genting dan khawatir akan membahayakan jiwa.[1] Mendengar hal tersebut, Bung Karno dan Bung Hatta bersedia ikut dengan para pemuda untuk menghindari kondisi seperti yang digambarkan oleh para pemuda.

Para pemuda membawa dan mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Rengasdengklok terletak tidak jauh dari Jakarta dan tidak pula di pinggir jalan utama Jakarta-Cirebon.[2] Pemilihan tempat pengamanan bagi Soekarno-Hatta di Rengasdengklok disebabkan karena Rengasdengklok daerah yang aman yang dikuasai tentara PETA. PETA memiliki keresidenan Jakarta yang terbagi atas dua daidan (batalyon) yakni Daidan I Jakarta dan Daidan II Purwakarta. Chudan (kompi) PETA yang memiliki asrama di Rengasdengklok termasuk Daidan II Purwakarta.[3] Setelah memasuki kota terpencil Rengasdengklok, rombongan yang menjemput Soekarno-Hatta diturunkan di tengah persawahan. Di tengah persawahan tersebut terdapat sebuah pondok bambu berbentuk rumah panggung. Namun ternyata tempat yang dijadikan persembunyian itu dinyatakan tidak aman dan kemudian pindah ke sebuah rumah yang terletak dekat dengan lingkungan asrama PETA.[4] Sepanjang pengamanan tersebut Soekarno terus menanyakan kabar perihal revolusi besar yang sering disebut-sebut oleh para pemuda. Kemudian terjadilah perdebatan hebat antara para pemuda dengan Soekarno-Hatta yang intinya para pemuda mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat itu juga.

Desakan dari para pemuda tersebut membuat Soekarno naik pitam. Soekarno-Hatta menolak desakan dari para pemuda dan hanya ingin memproklamasikan kemerdekaan di Jakarta. Namun pada akhirnya mereka semua menemui jalan buntu. Sekitar pukul 18.00 WIB, Ahmad Subarjo datang menemui dan menjemput Soekarno-Hatta di Rengasdengklok. Lima belas menit kemudian mereka kembali pulang ke Jakarta. Perasaan kesal terhadap ulah para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, menjadi teman bagi perjalanan pulang Soekarno-Hatta ke Jakarta.

Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok yang menjadi pro-kontra antara golongan muda dengan golongan tua telah menimbulkan berbagai interpretasi. Dr. Muhammad Ridhwan Indra S.H dan Sophian Marthabaya S.H dalam bukunya yang berjudul Peristiwa-Peristiwa di Sekitar Proklamasi 17-8-1945 menyebutkan bahwa pengamanan Soekarno-Hatta oleh para pemuda jika dilihat dari sudut pandang kepentingan proklamasi hanyalah perbuatan yang sia-sia. Beliau beranggapan bahwa tidak ada hasil yang didapatkan oleh para pemuda dan bangsa dalam hal kemerdekaan dari peristiwa pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Interpretasi yang hadir dari peranan pemuda pada peristiwa pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok menarik untuk diteliti lebih lanjut. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas lebih lanjut mengenai peranan strategis pemuda dan dinamika yang terjadi pada peristiwa pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.

1.2         Rumusan Masalah

Dalam dinamika yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, terdapat peristiwa-peristiwa yang sekiranya menjadi perhatian menarik untuk dibahas dan diangkat sebagai sebuah kajian sejarah. Salah satunya yaitu peristiwa pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok oleh para pemuda. Di sini terdapat permasalahan yang menarik untuk dibahas yaitu “Benarkah pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok oleh para pemuda hanyalah perbuatan yang sia-sia ataukah ada pengaruh bagi Soekarno-Hatta dalam menentukan kebijakan waktu pelaksanaan proklamasi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

  1. Bagaimana proses terjadinya pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok oleh pemuda?
  2. Apa peranan strategis yang dilakukan pemuda di Rengasdengklok?
  3. Apa dampak dari pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok?

1.3         Tujuan Penulisan

Penelitian yang berjudul “Peran Strategis Pemuda dalam Proklamasi Kemerdekaan, Studi Kasus Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok 1945” ini bertujuan untuk mengungkap peranan pemuda dan dinamika yang terjadi pada peristiwa pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Penelitian ini juga diharapkan bisa menambah khazanah penelitian dari peristiwa-peristiwa di sekitar proklamasi serta memberikan sumbangan bagi literatur mengenai sejarah Indonesia.

PEMBAHASAN

2.1     Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok Oleh Pemuda

Satu hari menjelang terjadinya proklamasi kemerdekaan Indonesia, terdapat suatu peristiwa yang sangat penting bagi konstelasi perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Peristiwa tersebut adalah pengamanan Soekarno-Hatta ke wilayah Rengasdengklok oleh para pemuda yang ingin segera Indonesia merdeka. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat antara pemuda dengan Soekarno-Hatta dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Malam hari di tanggal 15 Agustus 1945, rumah Bung Karno dikerumuni pemuda yang mendesak supaya malam itu juga kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.[5] Pemuda mendesak dengan keras agar proklamasi itu segera dilaksanakan. Namun Bung Karno tetap menolak dengan alasan bahwa Jepang sudah merestui kemerdekaan Indonesia dan besok pagi Panitia Persiapan Kemerdekaan akan bersidang dan melaksanakan kemerdekaan itu. Melihat respon dari Bung Karno tersebut, pemuda menilai bahwa kemerdekaan yang akan lahir nantinya hanyalah kemerdekaan buatan Jepang. Oleh karena itu pemuda tetap mendesak agar proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan saat itu juga. Namun Bung Karno pun bersikeras pada pendiriannya, menolak memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada malam itu. Perundingan mengalami deadlock dan diputuskan agar rapat diselesaikan saja. Kemudian Bung Karno masuk ke dalam rumahnya dan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing.

Pemuda yang tidak puas terhadap pertemuan dengan Bung Karno mencoba menyusun strategi lain agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dilaksanakan. Dini hari pada 16 Agustus 1945, disaat waktu sahur di bulan Ramadan, para pemuda saling membagi tugas guna menjemput Soekarno dan Hatta dari rumah mereka masing-masing. Bung Hatta yang sedang bersiap-siap untuk menyantap makanan sahur, tiba-tiba kedatangan tamu. Tamu tersebut adalah Sukarni dan Jusuf Kunto. Mereka adalah delegasi dari pemuda yang ditugasi untuk menjemput Bung Hatta dan mengamankannya. Sesampainya di rumah Bung Hatta, Sukarni dan Jusuf Kunto bertemu dengan penjaga rumah dan memintanya untuk membangunkan Bung Hatta. Kemudian Bung Hatta keluar menemui Sukarni dan Jusuf Kunto dan menanyai maksud dari kedatangan mereka. Adam Malik dalam bukunya yang berjudul Riwayat Proklamasi Agustus 1945, merekam dialog antara Bung Hatta dengan Sukarni;

“… setelah Bung Hatta bangun karena kaget bertanya kepada Sukarni, “Apa maksud.” Sukarni menjawab: “Bung (Hatta) lekas-lekas, bersiap, karena keadaan telah memuncak genting, rakyat sudah tidak sabar menunggu lagi. Belanda dan Jepang sudah bersiap-siap pula untuk menghadapi segala kemungkinan. Pemuda dan rakyat tidak berani menanggung akibat-akibat apa yang akan kejadian jika saudara masih tinggal di dalam kota.”[6]

Setelah mendengar penjabaran dari Sukarni tentang keadaan yang akan memuncak disertai kejadian-kejadian yang mungkin membahayakan jiwa, Bung Hatta kemudian memutuskan untuk ikut pergi bersama Sukarni dan Jusuf Kunto menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Di lain tempat, Dr. Muwardi dan Chairul Saleh yang juga merupakan delegasi dari golongan pemuda, bertugas untuk menjemput Bung Karno di rumahnya. Adam malik dalam bukunya yang berjudul Riwayat Proklamasi Agustus 1945 juga menuliskan dialog antara Bung Karno dengan Chairul Saleh;

“Ketika Bung Karno sudah bangun, ia bertanya apa maksudnya membangunkannya pada jam pagi deket subuh itu. Chairul Saleh menerangkan: “keadaan sudah memuncak, kegentingan harus diatasi. Orang-orang Belanda dan Jepang sudah siap-siap untuk menghadapi kegentingan-kegentingan itu. Sebab mereka juga sudah menanti-nanti sesuatu tindakan rakyat di dalam kota. Karena itu mungkin keamanan didalam kota dan keamanan Bung Karno dan Bung Hatta tidak dapat lagi ditanggung oleh rakyat dan pemuda, oleh karena itu diminta supaya Bung Karno pada jam ini juga (04.15) meninggalkan kota.”[7]

Akhirnya Bung Karno pun memutuskan untuk ikut dengan pemuda disertai Ibu Fatmawati dan Guntur yang masih bayi.

Rombongan pemuda yang membawa Bung Karno dan Bung Hatta, meninggalkan Jakarta menuju suatu kota terpencil di Jawa Barat yaitu Rengasdengklok. Rengasdengklok dipilih pemuda karena dianggap relatif lebih aman dan dikuasai oleh PETA. Setelah memasuki daerah Rengasdengklok, rombongan Soekarno-Hatta diturunkan di tengah persawahan kemudian dibawa ke sebuah asrama PETA. Tidak lama setelah berada di asrama PETA, rombongan dipindahkan dan dibawa lagi ke rumah seorang camat Rengasdengklok. Namun ternyata tempat itu dinyatakan tidak aman dan rombongan Soekarno-Hatta kembali dipindahkan ke sebuah rumah milik seorang petani Tionghoa bernama Djiau Kie Siong. Di rumah tersebut Soekarno beserta keluarganya dan juga Hatta diamankan cukup lama oleh para pemuda.

2.2     Peran Strategis Pemuda di Rengasdengklok

          Selama pengamanan di rumah Djiau Kie Siong, Bung Karno dan Bung Hatta terus menanyakan kabar perihal revolusi besar di Jakarta yang sering disebut-sebut oleh pemuda. Namun tentara PETA yang menjaganya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Kemudian Bung Hatta menyuruh tentara yang menjaganya itu untuk memanggil Sukarni. Tidak lama kemudian Sukarni datang dan mengatakan bahwa ia belum mendapatkan kabar dari Jakarta. Mendengar hal demikian, Bung Hatta berkomentar bahwa revolusi besar yang direncanakan pemuda itu telah gagal dan pengamanan ke Rengasdengklok hanya sia-sia karena di Jakarta tidak terjadi apa-apa.[8]

Beberapa jam setelah istirahat, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke sebuah ruangan yang dimana di dalam ruangan tersebut sudah terdapat para pemuda diantaranya Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Sutjipto, dan Umar Bachsan. Adam Malik dalam bukunya yang berjudul Riwayat Proklamasi Agustus 1945, merekam situasi dan dialog yang terjadi antara pemuda dengan Soekarno-Hatta dalam ruangan itu;

“Sukarni memulai pembicaraan. Ia menerangkan; maksud membawa saudara berdua ke daerah ini tidak lain hanya untuk mempersilakan Bung berdua selekasnya menyatakan Proklamasi Kemerdekaan atas nama seluruh rakyat, karena keadaan saat sudah mendesak dan suasanapun sudah sangat memuncak. Jika tidak dilakulan proklamasi selekas-lekasnya, maka pemberontakan yang hebat, pemberontakan melawan tiap-tiap penghalang kemerdekaan (ketika itu Jepang dan kaki tangannya) tentu akan berlaku. Maka oleh karena itu atas nama segenap rakyat, buruh, tani dan tentara supaya saudara-saudara turut melakukan proklamasi itu. Jika tidak, maka segala akibatnya, terutama yang mengenai keselamatan dari saudara berdua, tidak akan dapat ditangani oleh rakyat.”[9]

Terlihat sangat jelas bahwa pemuda tetap menginginkan kemerdekaan Indonesia dibuat oleh bangsanya sendiri bukan buatan dari bangsa lain. Pemuda menilai jika kemerdekaan Indonesia menunggu dilaksanakan oleh panitia bentukan Jepang (PPKI) maka sama artinya kemerdekaan yang nantinya lahir hanyalah kemerdekaan buatan Jepang yang sewaktu-waktu bisa dijajah lagi. Oleh karena itu, pemuda melihat kekalahan Jepang dari Sekutu adalah momentum bagi Indonesia untuk bisa merdeka dan menjadi negara seutuhnya tanpa adanya intervensi dari bangsa lain.

Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok merupakan suatu bentuk upaya strategis pemuda agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dilaksanakan. Setelah upaya dialog di Jakarta sebelumnya gagal menciptakan proklamasi kemerdekaan bagi Indonesia. Soekarno-Hatta dipaksa oleh para pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga di Rengasdengklok akan tetapi Soekarno tetap menolak dan hanya bersedia melaksanakan proklamasi di Jakarta. Pemuda yang telah bersusah-payah membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok enggan menyerah. Sukarni terus berupaya meyakinkan Soekarno-Hatta bahwa penyerahan Jepang tidak ada keragu-raguan lagi dan Indonesia bisa merdeka tanpa bantuan Jepang.

Melihat kondisi yang semakin sulit, Sukarni meminta Jusuf Kunto untuk melaporkan dan merundingkannya ke Jakarta. Jusuf Kunto berangkat ke Jakarta dan ia menemui kelompok Kaigun dan Subardjo. Setelah berunding di Jakarta akhirnya Subardjo meminta Jusuf Kunto mengantarnya ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan segera melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

2.3    Dampak Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok

Sekitar pukul 18.00 WIB, Ahmad Subardjo bersama Jusuf Kunto tiba di Rengasdengklok dan langsung menemui Soekarno-Hatta dan Sukarni. Pada awalnya kedatangan Subardjo ditolak oleh Sukarni karena Subardjo datang mengatasnamakan Kaigun, bahkan Subardjo hampir ditahan oleh pemuda karena hal itu. Subardjo kemudian menerangkan bahwa kedatangannya sebenarnya diutus oleh Wikana cs.[10] Ia terus berupaya menyakinkan Sukarni bahwa semua persediaan untuk persiapkan proklamasi sudah diatur di Jakarta. Soekarno-Hatta pun berjanji akan menandatangani proklamasi kemerdekaan itu dengan syarat harus ditanda-tangani di Jakarta.[11] Namun Sukarni belum percaya begitu saja. Menurutnya, bisa jadi janji tersebut tidak dipenuhi jika mereka nanti sudah tiba di Jakarta. Kemudian Subardjo memberikan jaminan siap untuk ditembak mati oleh tentara PETA jika kemerdekaan Indonesia tidak diproklamasikan malam itu juga atau selambat-lambatnya pada tengah hari berikutnya.[12] Setelah beberapa menit berunding, akhirnya Sukarni mempersilakan Subardjo untuk membawa kembali Soekarno-Hatta ke Jakarta.

Setibanya di Jakarta, Soekarno-Hatta kembali ke rumah mereka masing untuk sekadar istirahat sejenak dan bersih-bersih sebelum melaksanakan rapat untuk membahas teknis pelaksanaan proklamasi. Sekitar pukul 22.00 WIB Bung Karno mendatangi Bung Hatta untuk mengajak bersama-sama pergi ke rumah Laksamana Maeda[13] guna melaksanakan rapat untuk membahas teknis penyusunan teks proklamasi dan pelaksanaan dari proklamasi tersebut.

Sesampainya di rumah Maeda, Bung Karno dan Bung Hatta disambut oleh beberapa pejabat Jepang diantaranya adalah Miyoshi, Shigetada Nishijima, dan Maeda. Setelah beberapa menit kemudian Maeda mengajak petinggi-petinggi Indonesia untuk bertemu Letnan Jendral Otoshi Nishimura (Direktur Departemen Umum Pemerintahan Militer). Pertemuan ini bertujuan untuk menyampaikan sikap resmi pemerintah Jepang terhadap rencana mempercepat proklamasi kemerdekaan. Dalam pertemuan itu Letnan Jenderal Nishimura menyampaikan bahwa pemerintah Jepang keberatan akan kemauan pemimpin dan pemuda Indonesia untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan dengan alasan karena Jepang sudah menyerah kepada Sekutu dan diminta untuk menjaga status quo di Indonesia.[14] Namun karena tekad bangsa Indonesia sudah kuat dan bersatu, maka rencana mempercepat proklamasi kemerdekaan tetap dilaksanakan. Pemimpin dan pemuda Indonesia melanjutkan rapat untuk membahas teks proklamasi.

Di dalam rumah Laksamana Maeda telah berkumpul puluhan orang, mereka diantaranya adalah para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan para pentolan pemuda progresif yang ingin cepat Indonesia merdeka.[15] Mereka semua berkumpul membicarakan mengenai teks proklamasi. Kemudian hasil dari rapat itu adalah lahirnya teks proklamasi yang kita ketahui saat ini dan juga diputuskan orang yang nantinya akan membacakan dan menandatangani teks proklamasi tersebut atas nama bangsa Indonesia adalah Soekarno-Hatta. Sebelum rapat ditutup, Bung Karno memperingatkan bahwa pada hari itu juga, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB proklamasi kemerdekaan akan dibacakan di halaman rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur No.56.[16] Akhirnya dengan dibacakannya proklamasi kemerdekaan tersebut, bangsa Indonesia telah menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka.

 KESIMPULAN

3.1     Kesimpulan

Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok oleh pemuda merupakan suatu peristiwa yang memiliki arti penting bagi terlaksananya proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pemuda memilih jalan tersebut sebagai bentuk upaya untuk segera merealisasikan cita-cita bangsa yang sudah lama didambakan oleh seluruh rakyat Indonesia yaitu kemerdekaan. Adanya dinamika yang terjadi dalam proses menuju kemerdekaan Indonesia antara pemuda dengan kelompok Soekarno-Hatta, telah menjadi catatan sejarah betapa besarnya perjuangan para founding father negara ini untuk menciptakan suatu negara yang merdeka dan berdaulat serta terbebas dari intervensi bangsa lain.

Namun dibalik itu semua, adanya perbedaan persepsi atas apa yang dilakukan pemuda dengan mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok menjadi perbincangan yang menarik. Pandangan yang menyebutkan bahwa tindakan yang diambil pemuda dengan mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok adalah suatu hal yang sia-sia, nyatanya tidak terbukti. Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok jelas telah memberikan dampak secara langsung bagi terlaksananya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dampak secara langsung dari atas apa yang dilakukan pemuda ialah adanya kebulatan tekad dari seluruh elemen, baik itu kelompok pemuda dan kelompok Soekarno-Hatta, untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia secepat-cepatnya. Selain itu upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka 100 % atas buatan bangsanya sendiri dapat menjadi kenyataan. Dapat disimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan pemuda dengan mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok merupakan suatu peranan  strategis dari pemuda dalam mewujudkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Adams, Cindy, 1986. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: PT. Gunung Agung

Djoyoadisuryo, Ahmad Subardjo, 1987. Kesadaran Nasional, Sebuah Otobiografi. Jakarta: Penerbit Gunung Agung.

Hatta, Mohammad, 1970. Sekitar Proklamasi. Jakarta: Tintamas

Indra, Muhammad Ridhwan, Marthabaya, Sophian, 1987. Peristiwa-Peristiwa di Sekitar Proklamasi 17-8-1945. Jakarta: Sinar Grafika.

Malik, Adam, 1982. Riwayat Proklamasi Agustus 1945. Jakarta: Penerbit Wijaya.

Malaka, Tan, 1948. Pembelaan Proklamasi 17Agustus 1945 (Dari Penjara ke Penjara Jilid III). Jakarta: LPPM Tan Malaka

Suganda, Her, 2009. Rengasdengklok Revolusi dan Peristiwa 16 Agutus 1945. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.


[1] Dr. Muhammad Ridhwan Indra S.H, Sophian Marthabaya S.H, Peristiwa-Peristiwa di Sekitar Proklamasi 17-8-1945, (Jakarta: Sinar Grafika, 1987), hal. 101-102

[2] Her Suganda, Rengasdengklok Revolusi dan Peristiwa 16 Agutus 1945, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009) hal. viii

[3] Ibid, hal. viii

[4] Rumah tersebut adalah kepunyaan dari seorang petani Tionghoa. Op Cit, hal 104.

[5] Cindy Adams, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1986), hal. 321

[6] Adam Malik, Riwayat Proklamasi Agustus 1945, (Jakarta: Penerbit Wijaya, 1982), hal. 47

[7] Ibid, hal. 47-48

[8] Mohammad Hatta, Sekitar Proklamasi, (Jakarta: Tintamas, 1970), hal. 42

[9] Adam Malik, Op Cit, hal. 51-52

[10] DR. Muhammad Ridhwan Indra S.H, Sophian Marthabaya S.H, Op Cit, hal. 107

[11] Ibid, hal. 107

[12] Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo S.H, Kesadaran Nasional, Sebuah Otobiografi, (Jakarta: Penerbit Gunung Agung, 1978) hal. 325

[13] Laksamana Maeda adalah seorang Laksamana Angkatan Laut (Kaigun) Jepang. Rumahnya yang terletak di Jalan Myakoodori No. 1, Jalan Imam Bonjol sekarang, digunakan untuk rapat panitia persiapan kemerdekaan Indonesia.

[14] DR. Muhammad Ridhwan Indra S.H, Sophian Marthabaya S.H, Op Cit,  hal. 118-119

[15] Ibid, hal. 119

[16] Ibid, hal. 131

One thought on “Peran Strategis Pemuda dalam Proklamasi Kemerdekaan: Studi Kasus Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok 1945

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s