Situs Cangkuang, Garut-Jawa Barat

Oleh Norma Rizkiananingrum, Mahasiswa Program Studi Jawa Universitas Indonesia

Pengantar

Pada tugas menganalisis kali ini penulis mengangkat Cagar Budaya Situs Cangkuang, Garut. Pemilihan objek tersebut dikarenakan pengalaman penulis yang pernah terjun langsung meneliti (penelitian sederhana) terkait situs tersebut. Terlepas dari anggapana bahwa cagar budaya bersangkutan semacam cagar budaya “tipuan” namun  penulis merasa bahwa analisis yang didapat dari penelitian sederhana yang pernah dilakukan oleh penulis ini perlu disampaikan kepada publik.  Dalam esai ini penulis akan memaparkan tentang deskripsi aspek fisik Candi Cangkuang berikut dengan tingkat keterawatannya saat ini, latar belakang sejarah objek, dan penilaian nilai penting atau tidaknya objek tersebut.


Aspek Fisik Candi Cangkuang dan Keterawatannya

Situs Cangkuang terletak pada Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Jarak Desa Cangkuang dari Garut sekitr 16 km, dan jika ditempuh dari Bandung sekitar 46 km. Secara keseluruhan situs cangkuang tidak hanya menyajikan candi cangkuang, namun juga terdapat wisata Situ Cangkuang, Kampung Pulo, Museum Cangkuang dan salah satu komponen terpenting Cangkuang adalah makam penyebar Islam di Cangkuang yakni Mbah Dalem Arif Muhammad.

Candi Cangkuang merupakan satu-satunya candi Hindu yang ditemukan di Jawa Barat. Sebagai Candi Hindu yang cukup langka ditemukan di daerah Jawa Barat, keberadaan candi cangkuang benar-benar dinilai berharga untuk melengkapi nilai informatif, estetika dan edukasi dalam percandian Jawa.

Situ Cangkuang atau danau Cangkuang menjadi pelengkap daerah wisata sejarah Cangkuang. Situ Cangkuang berhiasan bunga teratai menjadi daya tarik pertama sekaligus menyuguhkan sambutan hangat kepada para pengunjung situs Cangkuang. Situ Cangkuang dilengkapi perahu gethek berjumlahkan 20 gethek yang siap dengan para nakodanya untuk menyeberangkan para turis.

Kampung Pulo, adalah kampung yang terdapat di area wisata candi Cangkuang. Kampung ini merupakan kampung keturunan Mbah Dalem Arif Muhammad. Keunikan dari kampung ini adalah bangunan masih tradisional dan jumlahnya tetap dari masa ke masa. Kampung ini terdiri dari 6 rumah yang saling berhadap-hadapan dan di samping tengah-tengahnya terdapat 1 masjid sederhana. Menurut juru kunci, hal ini melambangkan jumlah anak Mbah Dalem Arif Muhammad yakni 6 perempuan dan 1 laki-laki. Jumlah yang tetap tersebut merupakan aturan adat turun temurun yang harus dipatuhi oleh seluruh generasi. Arsitektur yang tidak berubah juga tertera dalam daftar pantangan di kampung tersebut. Kampung Pulo dikepalai oleh satu kepala adat yang menempati rumah paling orisinil.

Tepat di depan candi dan makam, terdapat bangunan yang tidak begitu luas dengan model arsitektur lama. Di dalam bangunan tersebut berisikan naskah-naskah kuno dan beberapa foto mengenai proses pemugaran Candi Cangkuang. Bangunan tersebut bisa disebut sebagai Museum Cangkuang. Paling menarik dari museum tersebut adalah museum juga menyajikan cara pembuatan dluwang ‘kertas tradisional Indonesia’. Saat ini, hanya di Cangkuanglah tempat yang masih memproduksi dluwang. Sebenarnya ada tiga tempat pembuatan dluwang di Jawa yakni Purworejo, Gresik dan Garut (Cangkuang), namun karena bahan baku (pohon saeh) yang tidak mendukung (habis) maka hanya di Cangkuang-lah yang masih tetap eksis memproduksi.

Disamping Candi Cangkuang terdapat makam yang sampai saat ini masih banyak peziarahnya adalah makam Mbah Dalem Arif Muhammad. Mbah Dalem Arif Muhammad adalah penyebar Islam di wilayah Cangkuang. Menurut cerita masyarakat setempat Arif Muhammad adalah bekas tentara mataram yang diutus oleh raja untuk mengusir Belanda di Batavia, karena kalah Arif Muhammad tidak berani kembali ke tanah Mataram dan menetap tinggal di Jawa Barat tepatnya di wilayah Cangkuang. Pada waktu itu penduduk Cangkuang masih menganut Hindu dan akhirnya Arif Muhammad mulai menyebarkan agama Islam dan mengkikis sedikit demi sedikit agama Hindu.

Keberadaan Situs Cangkuang turut memberikan nilai kebanggaan dan nilai ekonomis bagi masyarakat Garut. Situs Cangkuang telah cukup berhasil menjadi tempat wisata yang diminati oleh wisatawan lokal maupun asing. Kolaborasi nilai cultural heritage (budaya, sosial, sains dan estetika) memberikan keunikan tersendiri bagi situs Cangkuang untuk bersaing dengan situs-situs percandian yang lain.

Berdasarkan konsep cultural heritage daya tarik yang ditawarkan memiliki dua bentuk atraksi yang menjadi satu kesatuan dalam bentuk sites (situs) dan landscape (situ) dan ini jarang dimiliki oleh tujuan wisata lain baik di Kabupaten Garut maupun di Jawa Barat. Daya tarik wisata lain yang menunjang kawasan Situ Cangkuang adalah cara pencapaian ke Situ dengan menggunakan rakit, serta aktifitas wisata yang mampu berkembang seperti rekreasi, piknik, memancing, meneliti / mempelajari budaya dan keunikan Situ serta masyarakat Kampung Pulo, serta wisata ziarah (garutkab.co.id).

Keadaan dan latar belakang alam sangat mendukung objek wisata Cangkuang, terlebih di telah mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah setempat. Penataan objek wisata sudah tertata rapi an dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang cukup memudahkan mencapai lokasi dan memanjakan wisatawan. Fasilitas meliputi pengadaan rakit (terdapat + 20 buah), pengaturan kedai cinderamata yang khas dan murah, pintu gerbang, pos penjagaan, pelayanan informasi, rakit, toilet, shelter, tempat ibadah, dan panduan pariwisata telah tersedia dengan keadaan cukup baik.

Nilai Sejarah Situs Cangkuang

Secara umum, nilai sejarah yang terdapat pada Situs Cangkuang adalah rangkuman sejarah masuknya Islam di wilayah tersebut sebagai agama pengganti Hindu-Budha yang dibawa dan disebarkan oleh Arif Muhammad. Dari keterangan pemandu wisata setempat, dahulunya wilayah Cangkuang adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Padjadjaran dan penduduk setempat menganut agama Hindu-Budha. Hal tersebut dibuktikan adanya Candi Cangkuang yang terdapat patung Dewa Siwa sebagai tempat ibadah penduduk Cangkuang.

Pada abad ke 17 datanglah Arif Muhammad yang disebut sebagai prajurit Mataram yang melarikan diri dari peperangan melawan Belanda di Batavia. Arif Muhammad kemudian menyebarkan agama yang ia anut yakni agama Islam ke peduduk Cangkuang. Dikatakan pula penyebaran agama Islam di Cangkuang susah-susah-gampang. Susah karena perlu merubah keyakinan seseorang, gampang karena Islam itu mudah dan tidak memandang kasta. Salah satu strategi yang digunakan Arif Muhammad untuk mengarahkan penduduk setempat ke agama Islam dan meninggalkan agama Hindu-Budha adalah dengan menjadwalkan jadwal pengajian pada hari Rabu. Hari Rabu adalah hari ibadah warga Hindu-Budha namun penduduk akhirnya diberi pilihan memilih pengajian Islam bersama Arif Muhammad atau beribadah dengan cara Hindu-Budha. Akhirnya warga setempat lebih memilih belajar agama Islam, dan mereka memeluk agama Islam sepenuhnya.

Di tempat tersebut juga kaya akan kegiatan produksi kertas. Dahulu kertas diproduksi untuk menulis kitab-kitab agama di Cangkuang. Di situs Cangkuang terdapat banyak kitab beraksara pegon (tulisan arab berbahasa Jawa), naskah tersebut berisi ajaran-ajaran agama. Diprediksi naskah-naskah tersebut adalah naskah buatan Arif Muhammad dan murid-muridnya.

Pada Situs Cangkuang juga terdapat kuburan-kuburan unik orang terdahulu. Keunikan kuburan tersebut karena ukuran kuburan yang sangat pendek dan batu nisannya menunduk ke bawah. Ternyata peletakan batu nisan memang dari kepala dan pusar mayat, tidak sampai kaki mayat. Dan batu nisan miring tersebut berfilosofi pagi, bahwa orang yang meninggal adalah orang yang berilmu namun rendah hati.  Keberadaan kuburan tersebut termasuk memuat nilai-nilai penting yang dianut oleh penduduk situs Cangkuang.

Hal yang tidak kalah menarik dan mempunyai nilai filosofi yang tinggi adalah landscape Candi Cangkuang yang “sempurna”, begitu keterangan dari Prof.  Agus Aris Munandar. Candi Cangkuang terletak pada dataran tertinggi pada daratan yang dikelilingi danau teratai, inilah yang disebut “sempurna”.

Nilai budaya lain yang terdapat pada situs ini adalah nilai keharmonisan dan toleransi. Situs tersebut sangat kental dengan sejarah masuknya agama Islam, keluarga Arif Muhammad sebagai penduduk setempat juga beragama Islam, dan tidak jarang wisatawan yang dapat ke makam Arif Muhammad mengadakan pengajian atau doa bersama untuk Arif Muhammad. Namun sering juga lokasi tersebut tertama di Candi digunakan sebagai tempat peribadahan orang Hindu. Sedangkan letak Candi Cangkuang dan makam tepat bersebelahan, dan ditempat itu pula terdapat dua kegiatan peribadatan umat Muslim dan Hindu. Hal ini juga menjadi kegiatan yang diburu oleh wisatawan, mereka ingin melihat keharmonisan dua agama tersebut.

Nilai-nilai tersebutlah yang menjadi latar belakang mengapa pemerintah setempat berniat ingin terus melindungi dan merawat situs Cangkuang, tentunya juga ada motif ekonomi di dalamnya.

Penting atau Tidak Dilakukan Perlindungan

Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan (UU RI No. 11 Tahun 2010). Berdasarkan pengertian cagar budaya tersebut, maka situs Cangkuang termasuk dalam cagar budaya maka wajib dilindungi. Situs Cangkuang menyimpan berbagai ilmu pengetahuan misalnya landscape kesempurnaan sebuah candi, kondisi kampung Pulo yang dilindungi keorisinilitas arsitekturnya, hingga metode pembuatan dluwang (kertas).

Situs Cangkuang mempunyai peranan penting bagi dunia pendidikan dan menyimpan nilai sejarah yang banyak. Namun sampai saat ini, keberadaan salah satu objek di Situs Cangkuang masih dalam perdebatan keorisinilannya, yakni Candi Cangkuang. Candi Cangkuang yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8, lalu ditemukan pada tanggal 9 Desember 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Candrasasmita. Pada tahun  1967—1968 dilakukan penggalian dan ditemukan pecahan-pecahan candi tidak lebih dari 30%. Selanjutnya pada tahun 1974—1976 dilakukan pemugaran. Pemugaran tersebut dilakukan untuk menyusun candi yang diadapatasi dari Candi Gedong 9 di Jawa Tengah. Sebenarnya pembangunan atau pemugaran tersebut  bisa dikatakan telah menyalahi aturan karena rekonstruksi dilakukan dengan modal temuan tidak lebih dari 30%. Bisa dikatan hal tersebut seperti pembohongan publik. Terlepas dari permasalahan tersebut, upaya perlindungan terhadap situs Cangkuang merupakan cagar budaya dengan peninggalan-peninggalan yang bermanfaat pada ilmu pendidikan.

Sumber Data

garutkab.go.id (diakses 09 Mei 2013)

wawancara:

  1.  Zaki Muhammad (Pemandu Wisata Situs Cangkuang)
  2. Prof. Aris Munandar (Pemateri mengenai Situs Cangkuang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s