Lima Pemikiran Indonesia: Solusi Masalah Indonesia dan Dunia

Oleh Rizal Agung Kurnia, Sastra Indonesia Universitas Airlangga

Indonesia, hari ini menjadi negara yang mulai kehilangan arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasca runtuhnya orde lama, Indonesia semakin menjadi negara yang linglung. Cita-cita yang diusung dalam melahirkan reformasi menuju Indonesia yang lebih baik, ternyata hanya angan-angan sesaat yang memang bukan semakin baik, namun semakin menuju Indonesia yang jauh dari cita-cita para pendiri negara. Permasalahan bangsa Indonesia sebenarnya tidak hanya terjadi saat ini, namun sudah dimulai setelah Indonesia mengumandangkan kemerdekaan 17 Agustus 1945 silam. Indonesia semacam lupa pernah menghasilkan sebuah pemikiran besar untuk Indonesia, sebuah pandangan hidup berbangsa dan bernegara, sekaligus sumbangan terbesar Indonesia pada dunia, yaitu Pancasila. Pancasila sudah mulai pudar, bahkan sempat disalahgunakan oleh rezim yang berkusasa. Semacam terjadi krisis pemaknaan atau mungkin memang banyak masyarakat Indonesia yang tidak tahu apa itu Pancasila dan bagaimana menerapkannya. Pemaknaan yang salah bahkan tidak tahu bagaimana tiap sila itu dilaksanakan dan dimaknai sehingga memunculkan konflik-konflik yang semakin menjauhkan Indonesia dari cita-cita luhurnya. Sila Ketuhanan yang semakin tidak mencerminkan bahwa kita ber-Tuhan. Sila Kemanusiaan yang tidak pernah adil dan semakin tidak beradab. Sila persatuan yang semakin menguatkan ego kelompok. Sila kerakyatan dengan musyawarah yang semakin membuat manusia Indonesia individualis. Lalu, sila keadilan untuk semua menjadi ketidakadilan terjadi hampir setiap bidang kehidupan.

Indonesia berdiri atas dasar manusia-manusia yang mengakui keberadaan Tuhan. Seharusnya pengakuan tersebut menjadi modal kita untuk mempunyai moral yang baik, karena pada dasarnya tidak ada satu kepercayaanpun atau agama apapun yang mengajarkan moral-moral yang jelek. Namun pada realitasnya, moral-moral buruk semakin banyak terjadi. Pemaksaan agama terhadap orang lain juga marak terjadi. Padahal pada sila pertama Pancasila menekankan kebebasan tiap orang untuk memilih agama dan beribadah sesuai dengan kepercayaanya. Bahkan, ketika kaum atheis mendeklarasikan diri sebagai kepercayaan yang tidak mempercayai adanya Tuhan, mereka sebenarnya secara tidak langsung juga mengakui adanya Tuhan selain Tuhan-Tuhan yang pada umumnya. Sila pertama ini seharusnya menjadi kunci kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diidam-idamkan oleh para pendiri negara. Indonesia memang negara yang berdasarkan agama, namun bukan “negara agama” yang hanya merepresentasikan salah satu unsur keagamaan dan terjadi pendiktean negara oleh agama. Sebagai negara yang dihuni beberapa agama dan kepercayaan, Indonesia diharapkan dapat mengambil jarak yang sama terhadap semua agama/keyakinan, dan harus dapat mengembangkan politiknya sendiri secara independen dari dikte agama.

Setelah mengakui adanya Tuhan yang mengatur kehidupan manusia, seharunya membuat kita tersadar sudah terlahir sebagai makhluk sosial. Alam pemikiran Pancasila pada sila kedua, berisi tentang nilai-nilai kemanusiaan universal yang berasal dari Tuhan yang kita akui, hukum alam, dan sifat-sifat sosial manusia dianggap penting sebagai fundamen etika-politik kehidupan bernegara dalam pergaulan dunia. Prinsip kebangsaan ini harus dilihat sebagai sikap persaudaraan antara bangsa di dunia. Bukan menjadi bangsa yang menutup diri dari dunia luar. Sikap persaudaraan tersebut mempunyai dua ruang yang berbeda. Pertama ruang eksternal, yang memiliki harapan bahwa Indonesia juga berperan aktif dalam ketertiban dunia yang berdasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Kedua ruang internal, Indonesia juga selalu mengakui dan memuliakan hak-hak tiap warga negara Indonesia. Dua ruang tersebut tentunya harus berlandaskan pada nilai-nilai universal, yaitu adil dan beradab.

Alam pemikiran Pancasila ketiga, penerapan asas-asas kemanusiaan yang universal tentunya harus dilakukan penguatan dulu pada lingkungan dalam negeri. Indonesia adalah negara yang terdiri dari bangsa-bangsa yang harus memiliki titik temu sebagai alat mempersatukan golongan dan perseorangan. Persatuan dari keberagaman tersebut harus dikelola berdasarkan konsepsi kebangsaan yang mencerminkan persatuan dalam keberagaman dan keragaman dalam persatuan yang sering kita kenal sebagai “bhineka tunggal ika”. Satu sisi kita membicarakan tentang persatuan yang dinaungi oleh Pancasila, UUD 1945, Bahasa Persatuan, dan simbol kenegaraan lainnya. Sisi yang lain kita juga harus mengakui bahwa Indonesia berdiri atas keragaman. Tentunya harus kita hormati perbedaan-perbedaan yang hidup secara berdampingan di Indonesia seperti agama/keyakinan, budaya daerah, dan lain-lain. Persatuan pada alam pemikiran ketiga Pancasila ini mencoba menyatukan yang berbeda-beda namun tidak menjadikan masing-masing yang berbeda itu kehilangan identitasnya sebagai bangsa.

Alam pemikiran pancasila keempat, nilai ketuhanan, kemanusiaan, serta nilai persatuan kebangsaan seharusnya menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat dijunjung tinggi atas semangat musyawarah secara hikmat dan bijaksana. Visi demokrasi Indonesia adalah permusyawaratan, demokrasi yang memperoleh kesejatian dalam penguatan kedaulatan rakyat, ketika kebebasan politik tidak cocok dengan kesetaraan ekonomi dalam kerangka musyawarah mufakat. Indonesia mengenal musyawarah mufakat dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan masyarakat. Dalam prinsip musyawarah mufakat tentu tidak akan menimbulkan golongan mayoritas atau minoritas dalam merumuskan keputusan. Prinsip musyawarah di Indonesia adalah mencari jalan tengah bukan memihak salah satu pendapat, mencoba menghormati kearifan masyarakat secara hikmat dan bijaksana.

Alam pemikiran Pancasila yang kelima, nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, serta demokrasi kerakyatan akan memperoleh tujuan akhirnya demi mewujudkan keadilan sosial. Wujud pemikiran kelima ini seharusnya tercermin dan teraplikasikan pada setiap pemikiran-pemikiran sebelumnya. Visi keadilan sosial Indonesia yaitu menghendaki kesetaraan dalam pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani, keseimbangan peran manusia sebagai makluk individu dan sosial, keseimbangan antara pemenuhan hak sipil dan politik dengan hak ekonomi, sosial dan budaya. Kehidupan perekonomian harus jauh dari aneka kesenjangan, kompetisi ekonomi harus memiliki sifat “kooperatif”  berasaskan kekeluargaan. Masing-masing pelaku ekonomi diberi peran yang secara keseluruhan mengembangkan semangat kekeluargaan. Peran individu diberdayakan dengan tetap menempatkan negara dalam posisi penting sebagai penyedia kerangka hukum dan regulasi, fasilitas, rekayasa sosial, serta jaminan sosial.

Kembali kepada pancasila dengan keindahan makna dan cita-cita alam pemikirannya  merupakan solusi tepat dalam mengatasi persoalan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemerintah seharusnya melihat posisi strategis pancasila sebagai alat pemecah kebuntuhan masalah negara saat ini. Pancasila sudah menawarkan segala pemikiran hebat bukan hanya untuk Indonesia, namun juga untuk masyarakat dunia pada umumnya. Karena nilai-nilai pancasila merupakan nilai universal yang diyakini masyarakat dunia dapat diterapkan pada negara-negara di dunia yang merindukan perdamaian. Hal menarik, bahwa pancasila adalah ideologi pertama yang mampu menampung ideologi-ideologi besar dunia. Begitu luar biasa kekuatan pancasila, namun tidak akan ada guna apabila tidak diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Kembali kepada pancasila adalah solusi paling tepat untuk mengatasi masalah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sekaligus berkehidupan dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s