Paham dan Memahami dengan Bijaksana Hegemoni Bahasa

Oleh Ahmad Maghrobi Akbar, Agung Prabawaningtyas, Egha Bagus Kusuma, Muhammad Rudiyansyah, dan Rizal Agung Kurnia, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya

Bab I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Arus globalisasi dan perkembangan teknologi memaksa manusia untuk menghilangkan garis pemisah satu sama lain. Dunia dibuat tanpa jarak oleh globalisasi yang didukung dengan perkembangan teknologi yang luar biasa cepatnya. Pertukaran arus informasi dan komunikasi yang tanpa mengenal tempat dan waktu membuat globalisasi semakin terasa keberadaannya dalam kehidupan masyarakat. Setiap perilaku yang ditimbulkan atau dibuat oleh manusia tentu akan memunculkan efek atau dampak bagi kehidupan manusia itu sendiri. Seperti halnya globalisasi yang juga memiliki dampak positif dan negatifnya.

Dampak positif globalisasi tentu membuat kehidupan kita semakin instans atau mudah, sumber informasi yang tidak terbatas membuat kita semakin cerdas sebagai manusia. Cerdas dalam menumukan kebenaran atas realitas-realitas yang ada. Namun, itu semua akan menjadi sangat destruktif apabila tidak ada kontrol atau penyaring yang jelas terhadap derasnya arus globalisasi. Globalisasi membuat persaingan antar individu sangat mencolok, hukum rimba terkadang sangat berlaku pada kehidupan masa modern ini, siapa yang kuat, dia yang menang. Kerakusan manusia membuat globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin terlihat kotor dan berbahaya. Kemudahan yang didapat seharusnya dapat memakmurkan banyak orang, karena kelicikan beberapa orang, membuat dampak positif tersebut jauh dari kata nyata. Persaingan merebut dan mempertahankan kekuasaan suatu kaum adalah salah satu realitas yang ada saat ini dan sebenarnya ini sudah terjadi sejak dahulu.

Globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pula yang membuat persaingan kekuasaan yang tidak sehat. Banyak teknik yang digunakan sekelompok orang untuk menguasai kelompok lain, sekaligus dengan tetap mempertahankan kekuasaannya terhadat kelompok lain. Salah satu cara yang paling mudah digunakan dengan prediksi keberhasilan yang cukup besar adalah mengunakan budaya sebagai alat untuk berkuasa. Budaya memiliki banyak unsur yang cukup luas, dalam tulisan ini kami mencoba melihat satu unsur yang sangat berbahaya yang digunakan untuk berkuasa, yaitu bahasa. Bahasa menjadi senjata yang paling mudah dan ampuh untuk berkuasa atas diri seseorang. Oleh karena itu, kami mencoba untuk membahas secara sederhana tentang praktik penguasaan seseorang atau sebuah kelompok atas seseorang atau kelompok lainnya dengan menghubungkan dengan kondisi sosial dan realitas yang ada saat ini di Indonesia dengan menggunakan mata pisau teori hegemoni Antonio Gramsci.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang malasah tersebut, kami mencoba menarik beberapa pertanyaan terkait apa yang akan kami bahas dalam tulisan ini, yaitu

  1. Bagaimana Konsep Hegemoni Gramsci serta hubungannya dengan praktik kebahasaan?
  2. Bagaimana praktik nyata hegemoni bahasa dalam kehidupan masyarakat di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, kami memiliki beberapa tujuan mengapa penulisan ini dilakukan.

  1. Untuk mendeskripsikan bagaimana konsep Hegemoni Gramsci serta hubungannya dengan praktik kebahasaan.
  2. Untuk mendeskripsikan bagaimana praktik nyata hegemoni bahasa dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Hegemoni Gramsci

Konsep hegemoni secara sederhana adalah sistem dominasi politik atau kekuasaan. Istilah ini menjadi luar ketika kaum Marxis mencoba mendefinisikan lain tentang konsep hegemoni yang memiliki pengertian kekuasaan diantara kelas-kelas sosial, terkhusus kelas berkuasa. Hegemoni berasal dari kata yunani “hegeisthai”, “egemonia” (to lead atau shidouken) yang memiliki arti memimpin, kepemimpinan. Dengan kata lain, hegemoni merupakan sebuah cara kelompok yang mendominasi berhasil mempengaruhi kelompok yang didominasi untuk menerima nilai-nilai moral, politik, dan budaya dari kelompok berkuasa.

Dalam perkembangannya, ada dua konsep hegemoni yang serupa namun tidak sama. Kedua konsep tersebut yaitu Hegemoni konsep Marxis dan Hegemoni konsep Antonio Gramsci. Apa yang berbeda dari kedua konsep tersebut? Kedua konsep tentang hegemoni tersebut tetap memiliki roh atau nafas tradisonal, yaitu tentang dominasi, tentang kekuasaan yang satu atas yang lain, tetap berbicara tentang penguasa dan yang dikuasai. Namun, keduanya mencoba melihat dari pandang yang berbeda terkait dengan bagaimana cara praktik hegemoni. Konsep kaum Marxis lebih kepada cara-cara kekerasan atau penindasar secara fisik dan nyata atau kongkrit, yang membuat sebuah kelompok mendominasi kelompok lain karena ketakutan atas kekuasaan yang kuat. Contoh kongritnya, sistem hegemoni yang seperti ini biasanya diterapak pada negara-negara yang memiliki pemerintahan yang otoriter atau diktaktor.

Berbeda halnya dengan konsep Gramsci yang lebih lembut namun juga bisa sangat mematikan orang yang dikuasai. Konsep ini berbahaya dalam artian yang dikuasai tidak sadar sedang dikuasai, sehingga apa saya yang diserukan oleh penguasa dianggap sebagai hal yang wajar dan melakukannya dengan suka rela, tanpa pemaksaan secara kekerasan fisik. Konsep inilah yang banyak digemari oleh penguasa-penguasa dunia sekarang, terutama dalam menguasai negara dunia ketiga. Hegemoni dapat menjelaskan fenomena terjadinya upaya pelanggengan kekuasaan oleh kelompok penguasa dan kelompok-kelompok lainnya juga. Tujuannya adalah menguasai wacana publik terhadap kelompok yang didominasi sehingga diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).

Antonio Gramsci seorang pemikir Italia yang mencoba mengartikan secara luar dan mendalam apa yang dimaksud dengan Hegemoni. Dalam pandangan Gramsci seperti yang sudah tertulis diatas, hegemoni tidak hanya tentang relasi antar kelas, namun juga menjelaskan tentang relasi sosial yang lebih luas, termasuk di dalamnya relasi komunikasi dan media. Hegemoni menurut Gramsci, tentang dominasi politik dengan cara kekuasaan, yaitu melalui kepemimpinan intelektual dan moral. Hegemoni selain berkaitan dengan politik dan kekuasaan, juga sangat berkaitan dengan ideologi yang dibawah penguasa. Hari ini, hegemoni yang semacam ini akan sangat mudah dijumpai. Penanaman ide-ide penguasa terhadap yang dikuasai menurut Gramsci perlu sebuah media. Media disini diharapkan dapat membentuk wacana publik sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penguasa. Media juga dapat diartikan sebagai institusi yang dikenal sebagai alat hegemoni atau ruang-ruang public pembentuk wacana penguasa. Sebagai alat hegemonik, institusi memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan wacana publik, ruang mensosialisasikan dan mempertahankan ide-ide atau ideologi hegemonik, seperti sekolah, tempat ibadah, dan media massa.

Gagasan hegemoni Gramsci telah mengadung isu-isu pokok dalam studi kultural, seperti tentang pluralisme, multikultural, dan budaya marginal. Jadi hegemoni Gramsci menolak konsep-konsep yang mengedepankan kebenaran mutlak, baik yang terkandung dalam Marxisme maupun non-Marxisme. Menurut Gramsci, ideologi tidak otomatis tersebar dalam masyarakat, melainkan harus melalui lembaga-lembaga sosial tertentu yang menjadi pusatnya (Faruk, 1994: 74). Kata intelektual yang diusung Gramsci dalam konsep hegemoninya dapat dipahami sebagai suatu kelas sosial secara menyeluruh yang menjalankan suatu fungsi organisasional, terstruktur secara jelas. Intelektual ini mencakup wilayah kebudayaan atau administrasi politik. Dengan pengertian lain, kelompok kelas sosial ini akan menciptakan wilayah-wilayah intelektual yang menjadi ladang subur praktik hegemoni ini berlangsung. Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara pikir atau wacana tertentu yang sudah terbentuk oleh kelompok dominan, dianggap yang paling benar, sedangkan yang lain salah. Teori hegemoni Gramsci menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada pertarungan untuk memperebutkan penerimaan publik. Pengalaman sosial kelompok (apakah oleh kelas, gender, ras, umur, dan sebagainya) berbeda dengan ideologi kelompok dominan untuk menyebarkan ideologi dan kebenarannya tersebut agar diterima, tanpa perlawanan. Salah satu kunci strategi kunci dalam hegemoni adalah nalar awam.

Gramsci menyebutkan faktor terpenting terjadinya hegemoni adalah ideologi dan politik yang diciptakan oleh penguasa dalam mempengaruhi, mengarahkan, dan membentuk pola pemikiran masyarakat yang dikuasai. Faktor lainnya adalah paksaan yang dialami masyarakat dengan diterapkannya sanksi yang menakutkan oleh penguasa, kebiasaan masyarakat dalam menerima hal baru, dan kesadaran serta persetujuan dengan unsur-unsur dalam masyarakat itu sendiri. Hegemoni dipergunakan tidak sekedar mengatur, namun juga mengarahkan masyarakat dengan cara pemaksaan lembut kepemimpinan moral dan intelektual. Pengaturan tersebut oleh Gramsci disebut intelektual organic. Mereka adalah tokoh yang mengarahkan arah wacana publik hingga konflik yang nanti dimunculkan juga merupakan rekayasa hegemoni tokoh moral dan intelektual yang tetap menginginkan kekuasannya atas kaumnya lemah tetap langgeng. Intelektual organic mewujudkan dominasinya melalui rekayasa bahasa sebagai sebuah kekuasaan. Misalnya hegemoni bahasa politik sering digunakan para politisi untuk membantu bagaimana bahasa dipergunakan untuk mengetahui siapa yang ingin berkuasa? Siapa yang ingin menjalankan kuasa? dan siapa yang ingin memelihara kekuasaan?. Oleh karena itu, keterkaitan hegemoni dengan bahasa sangat kuat. Melihat kondisi bahasa yang sangat lunak dan tidak kongkrit membuat bahasa menjadi alat yang tepat untuk melakukan praktik hegemoni, apalagi ketika melihat pengetahuan kebahasaan dan intelektual kelompok atau individu yang dikuasai tidak terlalu kuat, sehingga semakin memudahkan kelompok dominan untuk menebarkan ide-ide atau ideologinya untuk mengarahkan kelompok lain seperti yang diinginkan oleh kelompok dominan.

Keterkaitan bahasa dengan hegemoni yaitu bahasa menjadi alat penting sebagai media pelayan fungsi hegemoni.  Kekuatan bahasa terjadi apabila bahasa tersebut mampu mengubah keadaan atau situasi tertentu dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat yang percaya akan kekuatan bahasa, mereka selalu menggunakan bahasa untuk kelangsungan hidupnya. Mereka juga akan tahu bahwa bahasa dapat merubah kualitas kehidupannya. Masa sekarang, penggunaan kebudayaan, termasuk bahasa didalamnya, menjadi alat meraih sekaligus mempertahankan kekuasan. Bahasa merupakan salah satu media komunikasi paling dasar sekaligus paling efektif dalam menyalukan ide, gagasa, atau pemikiran kita kepada orang lain. Fungsi bahasa yang semacam ini tentu sejalan dengan fugnsi hegemoni. Praktik kebahasaan guna menunjang praktik hegemoni tentu lebih berjalan mulus, tanpa ada kekerasan fisik, kita (penguasa atau kelompok dominan) hanya menyampaikan ide kita yang didalamnya termuat ideologi kita melalui diksi dan gaya bahasa yang retoris yang tentu dapat dipahami oleh kelompok yang kita kuasai dan dicerna secara wajar, sehingga apapun yang kita ucapkan menjadi sebuah kebenaran dan keharusan untuk dilaksanakan.

Praktik kebahasaan yang menghegemoni semacam ini, tentu terdapat dampak yang positif dan tentu tidak jarang dampak yang destruktif yang muncul. Positif, ketika hegemoni tersebut mencoba menghancurkan dominasi kekuasaan yang tidak memperhatikan kepentingan banyak orang. Negatif, ketika hegemoni tersebut mencoba menghancurkan hal-hal positif yang sudah terbagun, atas dasar egosentris kelompok tertentu, yang akan cenderung menyesatkan. Negatif, apabila hegemoni digunakan untuk melanggengkan kekuasaan yang tidak merakyat, kekuasaan yang meraup keuntungan demi segelintir orang bukan banyak orang, yang seperti ini pun menyebabkan hegemoni tidak konstruktif pada tatanan sosial masyarakat, namun akan melahirkan masyarakat yang terhegemoni semakin terbelakang dan terpinggirkan.

Praktik hegemoni dengan media bahasa tentu bukan hal yang jarang kita jumpai di kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, tidak hanya di Indonesia melainkan terjadi juga dihampir seluruh negara di dunia, pada sektor-sektor besar seperti ekonomi, militer, politik, hingga sektor kecil dilingkup keluarga atau komunikasi antar individu  dan budaya.

2.2 Praktik Nyata Hegemoni Bahasa dalam Kehidupan Masyarakat di Indonesia

Praktik hegemoni bukan menjadi barang langka dalam kehidupan manusia. Terkhusus praktik hegemoni dengan media bahasa, menjadi barang yang sangat sering kita jumpai dalam kehidupan di sekitar kita. Sadar atau tidak, kita pun sering melakukan praktik hegemoni dengan kecantikan bahasa-bahasa kita. Tentu, hanya orang-orang yang paham akan praktik hegemoni dan ilmu kebahasaan atau yang memiliki intelektual cukup bagus akan paham, sedang terhegemoni oleh kelompok dominan. Kesadaran akan praktik hegemoni yang menimpah kita tentu tidak akan disadari secara langsung, akan ada jeda dalam memahami apakah kita sedang dihegemoni dan terhegemoni oleh kelompok dominan. Pertanyaanya adalah apakah kita akan terbawa arus hegemoni atau berpikir lebih kritis atas apa saja yang disuguhkan kepada kita yang dianggap sebuah kebenaran.

Dalam pembahasan kali ini, kami mencoba untuk menelusuri sekaligus memberikan beberapa fakta bahwa telah terjadi praktik hegemoni yang dijalankan beriringan dengan praktik kebahasaan yang ada di kehidupan kita sehari, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, Indonesia. Tidak ada prakik kebahasaan yang bebas dari kepentingan, bahkan setiap perilaku manusia memiliki muatan-muatan ideologi dan kepentingan tertentu. Bahasa tidak pernah berdiri dengan sikap netral, setiap ujaran, kata, kalimat, hingga tataran wacana, semuanya tidak bersikap netral dan objektif, semua bentuk tersebut merupakan tunggangan untuk menguasai pengguna bahasa lain.

Kita mulai dari hal yang terkecil, yaitu setiap komunikasi kita terhadap orang lain, ketika kita selalu membuat apa yang kita katakana adalah sebuah kebenaran yang harus diakui oleh lawan bicara kita. Tentunya dengan menggunakan bahasa yang indah dan alasan-alasan yang logis, namun selogis apapun alasannya, praktik dominasi kita terhadap lawan bicara kita tentu jelas terjadi. Begitu juga sebaliknya, lawan bicara kita pun akan melakukan praktik hegemoni yang sama kepada kita, ketika kitapun memiliki intelektual yang lebih rendah dibanding dengan lawan bicara kita, dengan menggunakan bahasa yang melangit-langit membuat kita menganggap bahwa lawan bicara kita lebih pandai dari kita, disitula terjadi praktik hegemoni. Kemudian, sering kita berbagi cerita kepada orangtua atau keluarga, kerabat atau sahabat, yang memunculkan saran –saran yang mereka keluarkan guna mengatasi permasalahan kita, tanpa disadari itu merupakan proses hegemoni yang nyata terjadi.

Bagaimana proses belajar mengajar kita selama berada di bangku sekolah dasar hingga menengah atas, bahkan pendidikan tinggipun juga merupakan alat hegemoni yang nyata disekitar kita, entah kita menyadari atau tidak, inilah yang terjadi dengan kehidupan kita. Belajar mengajar yang mengedepankan pendidikan ala banking yang hanya menjadikan murid sebagai objek dan pengajar sebagai subjek merupakan lahan yang subur untuk menjalankan praktik hegemoni. Pendidikan formal selama tetap mempertahankan sistem pengajaran yang semacam itu, sulit kiranya kita membayangkan Indonesia yang besar. Di keluarga terjadi praktik hegemoni, dilingkungan sekolahpun demikian. Tidak jauh beda, itupun terjadi di kampus-kampus pendidikan tinggi yang seharusnya sudah mengajarkan manusia untuk selalu bersikap kritis. Namun pada kenyataanya, dosenpun juga menjadi dominasi dalam kelas-kelas perkuliahan. Memang tidak semua dosen bersikap demikan, tetapi tetap saja ada yang semacam itu. Dalam konteks ini, apakah dosen yang salah? Tentu dosen salah, namun apakah hanya dosen? Tentu tidak, kekritisan mahasiswa disini dipertanyakan ketika dominasi itu terletak pada satu orang, yaitu dosen. Pendidikan keagamaanpun diajarkan secara dogmatis, bukan dialogis. Tentu ini juga kenyataan praktik hegemoni.

Beranjak pada tataran yang lebih nasional, bagaimana praktik kebahasaan para politisi yang semakin mendekati pemilihan umun semakin retoris. Diksi-diksi memukau dalam lembaran janji-janji masa depan terlontarkan dengan membawa dominasi-dominasi kekuasaan. Bagaimana pemerintah yang berkuasa sering merasionalkan kebijakan-kebijakan yang dianggap penting demi keutuhan bangsapun marak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, Indonesia. media massa saat ini, semakin memperkuat dominasi kelompok atau ideologi tertentu untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, tentu ini sangat bersifat politis. Ada pula  kelompok-kelompok yang melawan penguasa juga merasionalkan ide-ide mereka dalam bahasa yang kelompok itu pahami guna menggulingkan kekuasaan, tentunya cita-cita kelompok ini pun juga berkuasa. Baru-baru ini konsep lama tentang negara bernafaskan agama kembali muncul, dengan merasionalkan pemikiran berbau agama tentu menjadi alat yang tepat untuk menarik massa, yang notabene negara ini mayoritas masyarakat dengan agama tertentu cukup besar. Merasionalkan ide dengan menjatuhkan ide yang sudah ada merupakan praktik nyata dari hegemoni. kekuatan bahasa disini menjadi alat kekuatan yang strategis dalam melancarkan perjuangannya melawan pihak yang berkuasa. Gerakan semacam ini lebih disukai, daripada gerakan separatis dengan senjata, tentunya kedua gerakan ini sama yaitu separatis.

Ide-ide yang dirasionalkan oleh para tokoh moral dan intelektual ini tentu akan mengubah pola pikir masyarakat yang cenderung kurang percaya dengan kemampuan dirinya sendiri untuk berpikir dan bertindak. Kurangnya kepercayaan terhadap diri sendiri ini mengakibatkan mudahnya hegemoni menjalar pemikiran kita yang nantinya akan berdampak pada sikap dan gerakan kita dalam berkehidupan. Itulah mengapa pentingnya selalu bersikap kritis dan tegas pada sikap. Tentu diimbangi dengan intelektual dan moral yang cukup memadai agar kita sadar akan praktik hegemoni. Sadar terhadap hegemoni, lebih mungkin daripada kita menghindari hegemoni.

 

BAB III

Penutup

3.1 Kesimpulan

Praktik hegemoni adalah sebuah kegiatan yang pasti terjadi disetiap kehidupan manusia. Berkuasa dan dikuasai menjadi hal yang wajar terjadi disekitar kita. Hegemoni tidak akan lepas dari bahasa sebagai alat yang tepat dalam praktik hegemoni. Kita sudah membahas dampak apa saja yang ketika terjadi praktik hegemoni. pada dasarnya hegemoni merupakan alat yang positif, namun akan menjadi sangat negatif apabila tidak terjadi kontrol terhadap hegemoni. Sebuah ketidakmungkinan untuk menghindari praktik hegemoni dengan media bahasa, yang bisa kita lakukan adalah memahami apa itu Hegemoni dan mengontrol Hegemoni tersebut agar tetap bernilai positif atau konstruktif, tentunya pada hegemoni dengan media bahasa yang lebih mengedepankan intelektualitas dan moral dalam, penguasaan terhadap manusia lain. Pengusaan ini sekali lagi bukan untuk hal yang negatif, melainkan hal-hal yang sifatnya membangun manusia yang kita hegemoni.

DAFTAR PUSTAKA

Eriyanto. 2011. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKiS Group.

Samsuri. 1994. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Sumarsono dan Paina Partana. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Verhaar,J.W.M.1990.Pengantar Linguistik.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Zahara, Hafsyah. Artikel: Melawan Hegemoni Di Tubuh Media Massa.

Hidayat, Ainur Rahman. Artikel: Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan (Telaah Atas Kekerasan Simbolik Di Dalam Media).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s