Telaah Sederhana Arena Kultural Stand-up Comedy di Indonesia: Aplikasi Pemikiran Pierre Bourdieu

Oleh Rizal Agung Kurnia, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya

Pendahuluan

Kebudayaan merupakan sistem atau pola perilaku manusia yang dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan yang menentukan hubungan manusia dengan sesama manusia, hubunganya dengan alam semesta, dan hubungannya dengan Sang Pencipta untuk menemukan kehidupan yang harmonis dan bahagia. Menurut Koentjaraningrat (1983) tentang unsur kebudayaan, beliau menyatakan bahwa ada tujuh unsur dalam sebuah kebudayaan secara universal. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut antara lain adalah sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian. Pengertian tersebut membuat pembacaan kita hari ini tentang kebudayaan harusnya sudah lebih bijak dengan tidak membatasi pengertian kebudayaan hanya sebatas bentuk-bentuk fisik karya seni ataupun sastra. Pandangan lain tentang kebudayaan juga diberikan oleh Spradley (1972) dalam Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Kebudayaan (RUU Kebudayaan) tahun 2011 menyebutkan bahwa Kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, pedoman, rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya. Pengertian tersebut memberikan pencerahan kepada kita bahwa kebudayaan dapat lahir dan tumbuh berkembang bahkan mati pada sebuah wilayah tertentu, berarti sifat kebudayaan selain universal juga tergantung pada lokalitas atau lingkungan dimana kebudayaan tersebut berada.

Indonesia dengan keragaman dalam bidang kebudayaan yang selanjutnya disebut sebagai negara multikultural mejadi surga kebudayaan. Di Indonesia kebudayaan lokal tumbuh dan berkembang menjadi sebuah identitas lokal sekaligus identitas nasional. Dalam Naskah Akademik RUU Kebudayaan (2011) menyebutkan bahwa Kebudayaan Nasional Indonesia adalah ada kebudayaan yang khas Indonesia-artinya kebudayaan ini unik dan tidak sama dengan yang lain dan ada suatu suasana kebudayaan yang terasakan sebagai suasana yang menjadikan penduduk Indonesia berada dalam suasana saling memahami dan mengerti serta merasa terikat pada struktur alam perasaaan dan pikiran yang relatif sejalan. Lalu Dalam Kongres Kebudayaan 1992, ada empat pemahaman tentang kebudayaan Indonesia/ Pertama, kebudayaan sebagai ”warisan luhur nenek moyang”, Kedua, sebagai kenyataan antropologis (yang bersifat serba menyeluruh, yang terdiri atas (a) ”seven culture universals”, ataupun yang melihatnya dari (b) sudut ajaran nilai, jadi kebudayaan adalah sesungguhnya ”konfigurasi sistem nilai”). Ketiga, kebudayaan sebagai ”kreativitas kehidupan yang estetik”. Dan, keempat kebudayaan sebagai sistem makna, system of meaning.

Kebudayaan yang selalu mengikuti dinamika kehidupan membuat kebudayaan itu sendiri mengalami pasang-surut dalam perkembangannya. Kebudayaan bisa tetap kokoh berdiri ditengah-tengah kehidupan masyarakat, namun kebudayaanpun juga dapat hilang atau mati ditinggal oleh masyarakat penciptanya, selain itu kebudayaan juga dapat berganti mengikuti dinamika kehidupan masyarakat. Contoh nyata pada masyarakat agraris dan maritim, hari ini Masyarkat tersebut tidak lagi bekerja sebagai buruh tani atau nelayan, karena arus globalisasi yang begitu luar biasa, masyarkat tersebut berubah menjadi masyarakat industrialis dan bahkan konsumtif yang sebenarnya bukan kebudayaan luhurnya.

Kondisi yang semacam itu, perlulah sebuah kajian yang bisa menjelaskan, memprediksi, hingga memberikan pemikiran kritis terhadap dinamika kebudayaan di masyarakat, khususnya Indonesia dalam bidang sastra dan bahasa. Kajian tersebut haruslah bersifat sangat manusia, karena kebudayaan tidak akan pernah lepas dari sifat dasar manusia sebagai pelaku kebudayaan. Kajian humaniora begitu penting dalam membaca situasi kebudayaan saat ini, kemutakhiran teori-teori humaniora seharusnya mampu diterapkan dengan bijak dalam mengatasi masalah-masalah kemanusiaan. Kajian humaniora dalam hal kritik terhadap kebudayaan tentu kita akan melirik Mother of Science yaitu Filsafat sebagau cara dan sistem pemikiran.

Tulisan ini akan sedikit membahas bagaimana pemikiran filsafat mampu menjelaskan, memprediksi, dan melakukan kritik terhadap kebudayaan yang sedang berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan dalam tulisan ini akan merujuk pada sebuah kesenian komedi yang ditawarkan dalam sebuah bingkai nama “Stand up Comedy” yang sekarang sedang ramai di dunia entertainment. Pemikiran filsafat yang digunakan untuk mencoba menjelaskan, memprediksi dan melakukan kritik terhadap kebudayaan tersebut adalah teori produksi kultural oleh Pierre Bourdieu dengan objek pengamatan pada tiga generasi Stand up Comedy Indonesia, yaitu Generasi Komedi Kafe, Generasi Komedi Layar TV, dan Generasi Komedi Kompetisi. Tulisan ini diharapkan mampu menjelaskan, memprediski, dan melakukan kritik secara singkat supaya pembaca atau penikmat hiburan mampu dengan bijak memandang sebuah hiburan tersebut tidak sekedar hiburan, namun merupakan sebuah arena pergulatan yang cukup seru untuk diperbincangkan dan dikritisi sebagai pembaca atau penonton yang bijak.

Pembahasan

Filsafat sebagai Penjelas, Prediksi, sekaligus Pengkritis Kebudayaan.

Kritik sebagai ungkapan bahasa yang berisi koreksi, pemebrian pikiran alternatif atau gugatan yang meretak-retakkan “kemapanan pikiran” bahkan melontarkan pikiran pencerahan dan pembaruan (transformatif), sesungguhnya lahir dari rahim arus pemikiran kritis dalam kebudayaan (Sutrisno, 2009:53). Pengkritisan terhadap suatu fenomena membuat kita sebagai manusia menjadi lebih bijak dalam melakukan kehidupan. Aliran pemikiran kritis dari Lembaga Sekolah Kritis Frankfurt dalam Sutrisno (2009) mencoba menunjukkan adanya tiga jenis pengetahuan kebudayaan. Pertama, pemikiran affirmatif  yang sekedar menerima apa adanya sebuah realitas. Kedua, pemikiran konfrontatif yang berarti melakukan perlawanan yang dapat menjadi antithesis dalam sebuah tesis yang ada. Ketiga, Pemikiran transformtif dan kritis terhadap pendapat tentang kebudayaan yang ada dari “irasionalitas” menjadi “rasionalitas”, sehingga akan terjadi saling memahami dan saling mencari konsensus dalam pemaknaan yang kemudian membuat “kebenaran” disepakati dalam dinamika wacana secara berkesinambungan oleh kelompok masyarakat yang sedang melakukan dialog. Pemikiran ketiga inilah pengkritisan oleh filsafat menjadi penting untuk merubah tata hidup bersama menjadi lebih baik. Dengan demikian, ruang kritik kebudayaan oleh studi filsafat kebudayaan senantiasa ada untuk melakukan fungsinya sebagai pengawal dinamika kebudayaan yang ada.

Menurut Sutrino (2009: 58), Semakin banyak ruang kritik kebudayaan akan semakin pula kita tidak perlu menangis-nangis dalam wacana histeris bahwa pendekatan kultural di Indonesia kalah dan “dikalahkan” secara sadar oleh hasrat kapital dan hasrat kuasa. Tidak hanya ruang kebudayaan yang begitu dianggap penting namun juga bagaimana ilmu pengetahuan seperti ilmu-ilmu humaniora, ilmu sosial, politik hingga lintas disiplin ilmu mampu melaksanakan tugasnya untuk menjelaskan, memprediksi, dan mengkritisi realitas kebudayaan yang ada, yang harapannya nanti manusia dapat hidup bersama dan menjadi semakin manusiawi.

Telaah Stand up Comedy di Indonesia dalam pemikiran Pierre Bourdieu.

Seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya, pemikiran kritis sangat diperlukan untuk membuka mata hati manusia dalam memandang segala realitas yang ada dihadapannya, dalam hal ini realitas kebudayaan yang semakin hari semakin mengalami perubahan dan senantiasa sedikit demi sedikit melenyapkan kebudayaan yang sudah ada dan hidup selama puluhan tahun atau kebudayaan luhur. Salah satu pemikiran filsuf Perancis akan penulis paparkan untuk mencoba melakukan sebuah telaah terhadap fenomena Stand up Comedy yang ada di Indonesia dari pendekatan Peirre Bourdieu yaitu produksi arena kultural. Dalam hal ini penulis akan mencoba menelaah bagaimana arena kultural Stand up Comedy bekerja dengan melihat yang pertama yaitu aturan-aturan atau konvensi yang berlaku dalam arena tersebut. Kedua, taruhan atau legitimasi yang dikontestasikan dalam arena. Ketiga, agen-agen yang terlibat berikut habitus dan strateginya. Dan keempat, praktik kuasa simbolik (doksa, ortodoksa, dan heterodoksa) yang terjadi dalam arean. Telaah singkat yang dilakukan penulis memfokuskan pengamatan terhadap tiga generasi Stand up Comedy di Indonesia yaitu, Generasi Komedi Kafe, Generasi Komedi Layar TV, dan Generasi Komedi Kompetisi. Penulis menghimpun beberapa video yang diunggah pada tahun 2011 di Youtube.com berdasarkan pada view count tiap komik yang berimbas pada popularitas komik tersebut pada tiap generasi.

Generasi Komedi Kafe merupakan generasi Stand up Comedy yang komik (sebutan pelaku komedi) menampilkan bakat melucunya pada acara non TV atau dalam kafe-kafe tertentu, atau dalam acara-acara hiburan non formal lainnya dalam hal ini penulis mengambil Canda Comedi Café di Jakarta, yang penulis yakini sebagai awal arena Stand up Comedy menjadi idaman masyarakat Indonesia yang haus akan hiburan. Dari generasi ini penulis mengambil beberapa agen yang bermain dalam arena, yaitu Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Soleh Solihun, Mongol, Sammy, dan Muhadkly Acho.

Generasi Komedi TV merupakan generasi kedua Stand up Comedy di Indonesia yang sudah sukses dengan video dalam Youtube, kemudian pemilik stasiun televisi berlomba-lomba untuk menampilkan arena Stand up Comedy dalam acara hiburan televisi. Televisi pertama yang melakukan penyiaran adalah Metro TV. Dari generasi ini penulis mengambil beberapa agen yang bermain dalam arena, yaitu Cak Lontong, Mudy Taylor, Bintang Bete, Jui, dan Setyawan Tiada Tara.

Generasi berikutnya, Generasi Komedi Kompetisi merupakan generasi Stand up Comedy di Indonesia yang mencoba membawa arena kultural tersebut dalam sebuah kompetisi oleh beberapa stasiun televisi, yaitu Global TV dan Kompas TV. Sistem yang digunakan adalah menjaring komik-komik dari beberapa daerah yang kemudian diadu dalam sebuah kompetisi akbar, tentu dewan juri dan sistem polling menjadi penentu kemenangan para komik. Ada tiga season kompetisi, penulis akan mengambil dua komik yang masuk dalam grand final dalam tiap season, yaitu Ryan Adriandhy dan Insan Nur Akbar (season 1), Ge Pamungkas dan Gilang Bhaskara (season 2), serta Priya Prayogha Pratama dan Fico Fachriza (season 3).

Stand up Comedy merupakan sebuah aliran komedi yang bisa dikatakan tampil beda ketika disandingkan dengan aliran komedi yang lain. Komedi yang memberikan suguhan hiburan pada masyarakat yang sudah mulai terlihat jenuh. Pertunjukan ini pertama kali dihadirkan di Inggris dan Amerika yang mencoba melakukan kritik terhadap tata hidup yang ada di masyarakat dengan media komedi. Sebagai sebuah hiburan, Stand up Comedy memiliki aturan main yang berlaku dari awal pembuatan hingga masa kekinian. Aturan pertama adalah Stand up Comedy harus dimainkan oleh satu orang sebagai komedian. Kedua, selalu ada materi yang dibuat komik dalam pertunjukannya nanti, yaitu set up (bagian yang tidak lucu sebagai pancingan agar penonton penasaran), punch (bagian yang lucu, untuk mengejutkan penonton), dan rule of three (gabungan dari lucu dan tidak lucu, agar penonton semakin merasakan dahsyatnya Stand up Comedy). Dan ketiga, hal-hal yang wajib dilakukan yaitu Don’t Try To Be Funny (dilarang melucukan diri sendiri, fokus pada melucukan materi), Don’t Tell Street Jokes (dilarang melucukan materi yang sudah umum), Don’t Tell Stories (dilarang membawakan materi terlalu panjang), Be Serious (harus serius), dan Santai (pembawaan materi dengan santai). Dalam sebuah arena produksi kultural, aturan atau konvensi menjadi hal yang penting. Karena konvensi tersebut menjadi landasan tiap agen agar dapat bermain dan bertarung dalam arena Stand up Comedy.

Taruhan atau legitimasi yang dikontestasikan dalam arena kultural adalah hal yang menjadi puncak mengapa arena pruduksi kultural itu ada. Awal lahirnya arena Stand up Comedy di Indonesia legitimasi yang ingin dicapai adalah kepuasan publik yang nantinya ditandai dengan jumlah penonton baik secara langsung maupun melalui Youtube dan pada jumlah follower pada sosial media Twitter dan ini hanya terjadi di Indonesia. Hal ini terbukti dengan selalu dicantumkan akun Twitter komik Stand up Comedy. Pertanyaannya kenapa bukan sosial media lainnya? Seperti Facebook, Blogger, dll. Saat itu Twitter tidak terlalu ramai digunakan, namun sejak saat itu mulai ramai digunakan. Youtube dalam arena juga menjadi hal yang menentukan komik tersebut laku dipasaran atau tidak, yang ini akan berlanjut pada Generasi Komik TV. Legitimasi pada generasi pertama akan menentukan kiprahnya pada generasi berikutnya walaupun muncul nama-nama agen baru seperti Cak Lontong. Mudy, Bintang Bete, dll. Legitimasi generasi kedua berada pada tataran komersial. Siapa yang terlucu ya dialah yang akan selalu diundang oleh produser arena Stand up Comedy generasi kedua yaitu MetroTV. Legitimasi itu tidak terhenti pada generasi kedua, sekali lagi generasi sebelumnya akan menentukan legitimasi pada generasi selanjutnya, dalam hal ini generasi ketiga, Generasi Komedi Kompetisi. Dalam generasi ketiga ini, nama-nama agen lama yang dari generasi pertama hingga ketiga tetap eksis tampil namun dengan fungsi yang berbeda. Misalnya, Raditya Dika dan Pandji, yang hadir sebagai pembawa acara pada Komedi Kompetisi yang diselenggarakan oleh Kompas TV dan Global TV, namun legitimasi Raditya Dika bisa tembus menjadi juri dalam kompetisi tersebut. Agen lama juga ada yang menjadi peserta kompetisi seperti, Isman, Ryan, dll, bahkan Ryan menjadi Juara pada season 1. Namun tetap banyak agen-agen baru yang juga memperebutkan legitimasi sebagai komik nomer 1 di Indonesia. Tidak berhenti disitu, Legitimasi selanjutnya adalah komik-komik tersebut harus menjadi pengisi acara dalam beberapa acara Stand up Comedy layar TV, kafe, acara komedi lain, hingga menjadi pemain film atau sinetron. Sekali lagi, sifat dasar menghibur menjadi komersialisasi kebudayaan, dalam hal ini arena Stand up Comedy di Indonesia.

Agen-agen yang bermain sudah saya sebutkan pada paragarf sebelumnya. Banyak agen yang tetap pada habitusnya sebagai seorang komik pada umumnya, namun tetap memiliki habitus individual sebagai komik. Habitus-habitus yang dibuat para agen tentu dibarengi dengan strategi-strategi tertentu untuk mencapai legitimasi yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Agen-agen pada generasi pertama cenderung tetap mempertahankan arena Stand up Comedy pada aturan main yang sudah ada pada umumnya. Main dari kafe ke kafe entah dibayar atau tidak membuat mereka puas dalam melakukan fungsi Education Entertainment atau penghibur yang mendidik. Mengapa? Karena pasar skala kecil yang bermain, yang menyebabkan para agen bebas mengekspersikan diri. Hal ini berbeda dengan generasi kedua dan ketiga yang sudah berorientasi pada pasar, materi hiburan tidak lagi penting itu mendidik atau tidak, yang jelas pasar dalam skala besar bermain dan bisa jadi akan mematikan proses kreatif para agen, walaupun proses kreatif itu tetap ada namun dibatasi pada tema-tema tertentu. Penemaan dalam sebuah arena pada generasi kedua dan ketiga terkesan meneraturkan, namun sebenarnya mematikkan proses kreatif, padahal tema materi seharusnya menjadi naluri agen dalam memandang sekitarnya. Kepedulian sosial yang akan dipaparkan pada materi, sangat ditentukan oleh kemauan produsen dan pasar, bukan atas inisiatif para peserta.

Habitus Individual sekaligus strategi, tetap memainkan peran para agen untuk meraih legitimasi. Misalnya, Raditya Dika yang memegang video terbanyak yang ditonton oleh pengunjung Youtube memiliki habitus yang khas, dengan selalu membahas realitas-realitas yang dianggap tidak penting, namun sangat penting untuk dibicarakan, misal masalah percintaan, sinetron, iklan, hingga artis-artis ternama di Indonesia. Strategi yang digunakan adalah modal kepopuleran sebelumnya. Agen ini sebelumnya adalah penulis buku komedi yang bukunya difilmkan, tentu ini akan membuat masyarakat lebih tertarik untuk menonton. Tiap agen memiliki habitus dan strateginya masing-masing, contoh lain adalah Cak Lontong dengan gaya Mario Teguh, Mudy dengan gaya komedi gitar yang pernah dilakukan oleh Kasino pada film warkop, lalu Bintang Bete yang bergaya komedi ala lagu yang berlirik “Aku sedih duduk sendiri, ambil tali bunuh diri, talinya putus gak jadi mampus, masuk kardus dicium tikus”, dari contoh tersebut kita dapat melihat bahwa generasi berikutnya lebih kreatif dalam pembawaan materi. Lain generasi kedua, lain pula generasi ketiga dalam habitus dan strateginya merebut legitimasi. Contoh agen Ryan, yang selalu hadir dari generasi pertama hingga generasi ketiga pada season 1, tentu dia akan lebih muda memenangkan kompetisi, selain itu modal rupawan juga sangat menunjang agen untuk meraih legitimasi. Legitimasi tidak berhenti pada kompetisi, agen ini mengisi beberapa cara komedi di TV dan non TV lainnya, ini merukapan kesuksesan yang luar biasa.

Dalam arena Stand up Comedy di Indonesia terjadi proses kuasa simbolik, menurut Kharnata (2013) menjelaskan bahwa kuasa simbolik sangat terkait dengan habitus yakni upaya untuk membuat cara pandang orang menyangkut persepsi dan apresiasi bergerak pada arah tertentu. Para agen memiliki kuasa simbolik masing-masing, misalnya para generasi pertama, mencoba untuk mempertahankan kekuasaannya dalam arena, dan mencoba mempertahankan aturan-aturan main yang ada dalam arena, generasi pertama ini disebut melakukan ortodoksa. Sedangkan generasi kedua, lebih melakukan perlawanan atau mencoba untuk melawan doksa yang ada, dengan memberikan materi dan habitus yang diluar aturan yang ada di arena. Sedangkan generasi ketiga, agen yang berperan adalah pasar, jadi kuasa simbolik dilakukan oleh pemilik televisi, agen dalam hal ini hanya mampu kreatif dalam kerangka pemikiran pemilik modal televisi. Ortodoksa memang dilakukan oleh generasi pertama untuk memainkan arena, namun baik generasi pertama hingga ketiga, semuanya tetap berujung pada keuntungan financial dan tentu para agen akan tunduk pada kekuasaan pemilik modal.

Kesimpulan

Kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang lahir, berkembang, hingga mati juga tergantung pada masyarakat itu sendiri. Kebudayaan seharusnya menjadi tata perilaku manusia kepada sesame manusia, alam semesta, dan pada sang pencipta. Tumbuh-kembang kebudayaan tentu butuh sesuatu yang dapat mengawal dengan baik, yaitu filsafat. Filsafat menempati fungsi menjelaskan, memprediksi, dan melakukan kritik terhadap kebudayaan yang berkembang, supaya kebudayaan bisa dimaknai lebih bijak oleh masyarakat itu sendiri. Dalam tulisan ini, penulis memberikan contoh bagaimana filsafat atau pemikiran kritis mencoba untuk berfungsi dalam pengawalan kebudayaan, dalam hal ini pemikiran Bourdieu dalam arena kebudayaan dipakai untuk menelaah secara singkat petarungan yang terjadi pada arena Stand-up Comedy yang ada di Indonesia. Telaah singkat menjelaskan bahwa pada arena cultural tersebut para agen bermain dengan aturan main yang sudah disepakati oleh banyak kalangan, ada beberapa agen yang mempertahankan, ada yang mengubah bahkan tampil baru. Habitus dan strategi para agen membuat arena semakin meriah, namun semua hari ini dikendalikan oleh kuasa yang lebih besar, yaitu komersialisasi dan pemilik modal menjadi pemengang kuasa dalam arena.

Daftar Pustaka

Bourdieu, Pierre. 2010. Arena Produksi Kultural. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 2011. “Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Kebudayaan”.

Karnanta, Kukuh Yudha. 2013. “Paradigma Teori Arena Produksi Kultural Sastra: Kajian Terhadap Pemikiran Pierre Bourdieu”. Jurnal Poetika Vol.1. UGM.

Koentjaraningrat. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Sutrisno, Mudji. 2009. Ranah-Ranah Kebudayaan. Jogjakarta: Kanisius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s