Menggantung Galau di Tiang Gantungan

Oleh : Abu Wafa, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya

Dalam kurun tahun 2011, kita dikejutkan dengan kehadiran galau yang tiba-tiba. Meledak pula. Kaum muda menyambutnya dengan riang gembira, seperti mendapat hadiah dari orang tercinta. Imbasnya, mereka menggunakan galau atau berkata galau setiap hari, setiap menit, setiap detik, setiap saat, kepada lawan bicara atau kepada diri sendiri. Solilokui istilahnya.

Kiranya pantas jika kita menarik kesimpulan bahwasanya galau adalah kata baru. Itu jika kita tak tahu sebelum galau meledak ruah. Sempat saya membaca Rafilus karya Budi Darma (tahun terbit 1988), Gelombang Sunyi karya Taufik Ikram Jamil (tahun terbit 2001), Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari (tahun terbit 2001). Di ketiga novel tersebut, sesekali muncul galau (saya lupa pada halaman keberapa galau berada). Bisa dikatakan ketiga penulis itu (beberapa penulis juga mengalaminya) sudah mengetahui galau sebelum tahun 2011. Lalu mengapa kita baru mengenalnya?

Tahun 2011-2012, Indonesia juga digegerkan dengan kehadiran musik Korea. Atau kita bisa menyebutnya dengan K-Pop. Kaum muda bersorak ramai. Bermunculan begitu banyak boyband dan girlband seperti kecambah Mulai dari Sm*Sh, Max 5, Hitz, Xo-Ix, 7 Icons, Cherry Belle, Super Girlies, dan lainnya yang begitu panjang daftarnya jika disebutkan. Saya tak ingin berburuk sangka dengan kehadiran mereka yang bersamaan dengan kehadiran galau. Kemudian disusul lagi kata-kata berlebihan atau dalam bahasa kaum muda, alay. Semisal kamseupay, iuh, huft, terus gua harus bilang WOW, dan semacamnya. Tragisnya, kata-kata berlebihan tersebut disebarluaskan melalui media elektronik, dihadirkan di sinetron beberapa stasiun televisi.

Dari data tersebut, kita bisa menganggukkan kepala bahwasanya kaum muda sudah mulai bosan berbahasa Indonesia sehingga melakukan variasi. Tidak masalah karena kita semua pun tahu, kaum muda begitu suka dengan eksplorasi dan mudah jenuh. Atau malah sebaliknya, kaum muda kurang begitu mahir berbahasa Indonesia sehingga kekurangan atau miskin kosakata. Ditarik lebih jauh, kaum muda Indonesia mulai kehilangan pijakan terhadap bangsanya sendiri. Teringat Sumpah Pemuda bunyi kedua: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kita bisa memaklumi karena kiblat kaum muda sekarang ada dua: Barat (Eropa) dan Korea. Keduanya memiliki arus dan imbas cukup besar di kalangan kaum muda. Kaum muda bergalau sesuka hati dan dengan senang hati meskipun galau sedikit mirip di bahasa Inggris (jika kita berkiblat pada Eropa) dengan gallows yang berarti tiang gantungan. Maka, kita semakin yakin bahwasanya kaki kaum muda sudah tak berpijak (lagi) di tanah bangsanya sendiri karena mereka digantung. Karenanya, saya sering menyebutnya bahwa dengan galau kita bisa terbang. Pula “nyawa” mereka sedang terancam oleh budaya dari luar.

Akhir kata, bergalaulah secara bijaksana.

Surabaya, 01.02.13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s