Literati Tahun 2013

Hai sobat ILMIBSI.
Literati hadir lagi loh pada tahun 2013.
Apa itu Literati?
Literati adalah salah satu produk berupa buletin atau bacaan yang isinya merupakan tulisan-tulisan dari mahasiswa-mahasiswa Ilmu Budaya, Sastra, Bahasa, dan Seni di Indonesia. Kalau kata Pramoedya Ananta Toer “Menulislah. Jika engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dunia dan dari pusaran sejarah”.
mau tahu seperti apa isinya? langsung saja, unduh softcopy disini Literati 2013 atau disini Literati 2013

Terima Kasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang ikut berpartisipasi baik itu berupa karya ataupun tenaganya sehingga muncullah karya anak bangsa yang EKSOTIS!
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah sekaligus kebudayaannya. Budaya membuat merdeka dan merdeka harus menjadi budaya.

“Indonesia Tak Akan Berarti Apapun Tanpa Karya Anak Bangsanya” AK Dawami (FSSR UNS)

Menggantung Galau di Tiang Gantungan

Oleh : Abu Wafa, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya

Dalam kurun tahun 2011, kita dikejutkan dengan kehadiran galau yang tiba-tiba. Meledak pula. Kaum muda menyambutnya dengan riang gembira, seperti mendapat hadiah dari orang tercinta. Imbasnya, mereka menggunakan galau atau berkata galau setiap hari, setiap menit, setiap detik, setiap saat, kepada lawan bicara atau kepada diri sendiri. Solilokui istilahnya.

Baca lebih lanjut

Burung di Depan Jendela

kupikir kekhilafanmu sedang berraja

dan memilihmasukkan namaku sebagai korban

agar burung piaraanmu

yang kaupajang di depan jendela kamar

merasa merdeka

shubuh larut jadi duka hitam

dan kabut-kabutnya telah menjelma

narasi panjang berbait-bait

seperti guntur yang dilagukan daun-daun

tapi masih kuterima namamu sebagai sunyi

yang paling wangi ditengah melati

yang paling putih dan sesat

berikut gema sajakku ditenggelamkan jeda

aku tinggalkan kata-kata sebagai penjaga sejarah

agar kita menua

dan ranum dalam jendela

 

 

Surabaya, 2013

 

Paham dan Memahami dengan Bijaksana Hegemoni Bahasa

Oleh Ahmad Maghrobi Akbar, Agung Prabawaningtyas, Egha Bagus Kusuma, Muhammad Rudiyansyah, dan Rizal Agung Kurnia, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya

Bab I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Arus globalisasi dan perkembangan teknologi memaksa manusia untuk menghilangkan garis pemisah satu sama lain. Dunia dibuat tanpa jarak oleh globalisasi yang didukung dengan perkembangan teknologi yang luar biasa cepatnya. Pertukaran arus informasi dan komunikasi yang tanpa mengenal tempat dan waktu membuat globalisasi semakin terasa keberadaannya dalam kehidupan masyarakat. Setiap perilaku yang ditimbulkan atau dibuat oleh manusia tentu akan memunculkan efek atau dampak bagi kehidupan manusia itu sendiri. Seperti halnya globalisasi yang juga memiliki dampak positif dan negatifnya.

Baca lebih lanjut

Lima Pemikiran Indonesia: Solusi Masalah Indonesia dan Dunia

Oleh Rizal Agung Kurnia, Sastra Indonesia Universitas Airlangga

Indonesia, hari ini menjadi negara yang mulai kehilangan arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasca runtuhnya orde lama, Indonesia semakin menjadi negara yang linglung. Cita-cita yang diusung dalam melahirkan reformasi menuju Indonesia yang lebih baik, ternyata hanya angan-angan sesaat yang memang bukan semakin baik, namun semakin menuju Indonesia yang jauh dari cita-cita para pendiri negara. Permasalahan bangsa Indonesia sebenarnya tidak hanya terjadi saat ini, namun sudah dimulai setelah Indonesia mengumandangkan kemerdekaan 17 Agustus 1945 silam. Indonesia semacam lupa pernah menghasilkan sebuah pemikiran besar untuk Indonesia, sebuah pandangan hidup berbangsa dan bernegara, sekaligus sumbangan terbesar Indonesia pada dunia, yaitu Pancasila. Pancasila sudah mulai pudar, bahkan sempat disalahgunakan oleh rezim yang berkusasa. Semacam terjadi krisis pemaknaan atau mungkin memang banyak masyarakat Indonesia yang tidak tahu apa itu Pancasila dan bagaimana menerapkannya. Pemaknaan yang salah bahkan tidak tahu bagaimana tiap sila itu dilaksanakan dan dimaknai sehingga memunculkan konflik-konflik yang semakin menjauhkan Indonesia dari cita-cita luhurnya. Sila Ketuhanan yang semakin tidak mencerminkan bahwa kita ber-Tuhan. Sila Kemanusiaan yang tidak pernah adil dan semakin tidak beradab. Sila persatuan yang semakin menguatkan ego kelompok. Sila kerakyatan dengan musyawarah yang semakin membuat manusia Indonesia individualis. Lalu, sila keadilan untuk semua menjadi ketidakadilan terjadi hampir setiap bidang kehidupan.

Baca lebih lanjut

Telaah Sederhana Arena Kultural Stand-up Comedy di Indonesia: Aplikasi Pemikiran Pierre Bourdieu

Oleh Rizal Agung Kurnia, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya

Pendahuluan

Kebudayaan merupakan sistem atau pola perilaku manusia yang dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan yang menentukan hubungan manusia dengan sesama manusia, hubunganya dengan alam semesta, dan hubungannya dengan Sang Pencipta untuk menemukan kehidupan yang harmonis dan bahagia. Menurut Koentjaraningrat (1983) tentang unsur kebudayaan, beliau menyatakan bahwa ada tujuh unsur dalam sebuah kebudayaan secara universal. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut antara lain adalah sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian. Pengertian tersebut membuat pembacaan kita hari ini tentang kebudayaan harusnya sudah lebih bijak dengan tidak membatasi pengertian kebudayaan hanya sebatas bentuk-bentuk fisik karya seni ataupun sastra. Pandangan lain tentang kebudayaan juga diberikan oleh Spradley (1972) dalam Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Kebudayaan (RUU Kebudayaan) tahun 2011 menyebutkan bahwa Kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, pedoman, rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya. Pengertian tersebut memberikan pencerahan kepada kita bahwa kebudayaan dapat lahir dan tumbuh berkembang bahkan mati pada sebuah wilayah tertentu, berarti sifat kebudayaan selain universal juga tergantung pada lokalitas atau lingkungan dimana kebudayaan tersebut berada.

Baca lebih lanjut

Peran Strategis Pemuda dalam Proklamasi Kemerdekaan: Studi Kasus Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok 1945

Oleh Saifulloh Ramdani, Mahasiswa Progam Studi Sejarah FIB UI

PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Proklamasi kemerdekaan merupakan peristiwa monumental bersejarah yang memilki arti penting bagi konstruksi bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan menjadi simbol bagi menangnya perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan tirani kaum imperialis. Proklamasi kemerdekaan juga menjadi simbol dari langkah awal bangsa Indonesia membangun dan membentuk suatu negara yang berdaulat. Melalui Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia resmi dibacakan. Dengan ini bangsa Indonesia menyatakan diri menjadi suatu bangsa dan negara yang merdeka serta bebas dari penjajah.

Sebelum dibacakannya proklamasi kemerdekaan, terjadi beberapa peristiwa yang mewarnai dinamika perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Salah satunya adalah peristiwa pengamanan SoekarnoHatta ke Rengasdengklok. Soekarno-Hatta dijemput oleh beberapa orang yang mewakili golongan muda dari rumah mereka masing-masing. Tepatnya tanggal 16 Agustus 1945, lepas tengah malam di bulan Ramadan, Kamis yang penuh ketegangan, Hatta yang sedang bersiap-siap untuk makan sahur, mendapati para pemuda yaitu Sukarni dan Jusuf Kunto datang dari arah Cikini Raya 71. Di lain tempat, pemuda lainnya yaitu Chairul Saleh dan Dr. Muwardi mendatangi rumah Bung Karno dengan mobil pinjaman dari D. Asmoro. Para pemuda menyampaikan kepada Bung Karno dan  Bung Hatta untuk segera bergegas meninggalkan Jakarta karena keadaan telah memuncak genting dan khawatir akan membahayakan jiwa.[1] Mendengar hal tersebut, Bung Karno dan Bung Hatta bersedia ikut dengan para pemuda untuk menghindari kondisi seperti yang digambarkan oleh para pemuda.
Baca lebih lanjut

Meninjau Kembali Substansi RUU Pengelolaan Kebudayaan

Oleh Badan Eksekutif Mahasiswa FIB UI

Kebudayaan merupakan khazanah kemanusiaan yang sangat luas cakupannya. Filsafat kebudayaan menjabarkan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang bersifat insani sehingga kebudayaan seyogyanya adalah bersifat dinamis. Dalam berkebudayaan, negara telah menjamin setiap warganya dalam hak akan berbudaya, dan sebagai subjek kita membutuhkan legitimasi akan hak dalam berbudaya. Hingga tahun 2008, terdapat 108 peraturan yang dikeluarkan pemerintah mengenai kebudayaan. Namun selama ini, belumlah ada peraturan perundang-undangan terkait kebudayaan itu sendiri. Hal ini kemudian terjawab dengan adanya Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Kebudayaan, yang ternyata telah disusun seenjak 10 tahun yang lalu.

Secara umum, RUU ini mencakup akan dua hal besar, yaitu adanya semangat dinamisasi kebudayaan yang memuat perlindungan kebudayaan di dalamnya, dan adanya dampak negatif kebudayaan yang akan diimplementasikan oleh komisi perlindungan kebudayaan maksimal dua tahun setelah komisi tersebut berdiri. Dari penjabaran tersebut, kita akan menemukan sebuah hal yang ganjil. Hal yang ganjil tersebut adalah adanya pembentukan komisi perlindungan kebudayaan, sementara kriteria dampak negatif kebudayaan, yang menjadi tujuan komisi ini dibentuk tersebut belum jelas statusnya karena belum dirancang. Hal tersebut dapat kita lihat pada pasal 79 dan 80 pada RUU ini.
Baca lebih lanjut